Monday, October 22, 2007
Rapat rutin Hari selasa
Hari ini RSU Banyumas mengadakan rapat kordinasi rutin lintas fungsi di Ruang Doklat 1 RSU Banyumas
infeksi HIV
Infeksi HIV
DEFINISI
Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu infeksi oleh salah satu dari 2 jenis virus yang secara progresif merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit, menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan penyakit lainnya sebagai akibat dari gangguan kekebalan tubuh. Pada awal tahun 1980, para peneliti menemukan peningkatan mendadak dari 2 jenis penyakit di kalangan kaum homoseksual di Amerika. Kedua penyakit itu adalah sarkoma Kaposi (sejenis kanker yang jarang terjadi) dan pneumonia pneumokista (sejenis pneumonia yang hanya terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan). Kegagalan sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan timbulnya 2 jenis penyakit yang jarang ditemui ini sekarang dikenal dengan AIDS. Kegagalan sistem kekebalan juga ditemukan pada para pengguna obat-obatan terlarang yang disuntikkan, penderita hemofilia, penerima transfusi darah dan pria biseksual. Beberapa waktu kemudian sindroma ini juga mulai terjadi pada heteroseksual yang bukan pengguna obat-obatan, bukan penderita hemofilia dan tidak menerima transfusi darah. AIDS sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat dengan lebih dari 500.000 orang terjangkit dan 300.000 meninggal sampai bulan Oktober 1995. WHO memperkirakan 30-40 juta penduduk dunia akan terinfeksi HIV pada tahun 2000.
PENYEBAB
Terdapat 2 jenis virus penyebab AIDS, yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 paling banyak ditemukan di daerah barat, Eropa, Asia dan Afrika Tengah, Selatan dan Timur. HIV-2 terutama ditemukan di Afrika Barat. PERJALANAN PENYAKIT Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit. Materi genetik virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi. Di dalam sel, virus berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya. Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker. Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun:
Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi.
Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS.
1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi.
Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang. PENULARAN Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh yang mengandung sel terinfeksi atau partikel virus. Yang dimaksud dengan cairan tubuh disini adalah darah, semen, cairan vagina, cairan serebrospinal dan air susu ibu. Dalam konsentrasi yang lebih kecil, virus juga terdapat di dalam air mata, air kemihi dan air ludah. HIV ditularkan melalui cara-cara berikut:
· Hubungan seksual dengan penderita, dimana selaput lendir mulut, vagina atau rektum berhubungan langsung dengan cairan tubuh yang terkontaminasi
· Suntikan atau infus darah yang terkontaminasi, seperti yang terjadi pada transfusi darah, pemakaian jarum bersama-sama atau tidak sengaja tergores oleh jarum yang terkontaminasi virus HIV
· Pemindahan virus dari ibu yang terinfeksi kepada anaknya sebelum atau selama proses kelahiran atau melalui ASI. Kemungkinan terinfeksi oleh HIV meningkat jika kulit atau selaput lendir robek atau rusak, seperti yang bisa terjadi pada hubungan seksual yang kasar, baik melalui vagina maupun melalui anus. Penelitian menunjukkan kemungkinan penularan HIV sangat tinggi pada pasangan seksual yang menderita herpes, sifilis atau penyakit menular seksual lainnya, yang mengakibatkan kerusakan pada permukaan kulit. Penularan juga bisa terjadi pada oral seks (hubungan seksual melalui mulut), walaupun lebih jarang. Virus pada penderita wanita yang sedang hamil bisa ditularkan kepada janinnya pada awal kehamilan (melalui plasenta) atau pada saat persalinan (melalui jalan lahir). Anak-anak yang sedang disusui oleh ibu yang terinfeksi HIV bisa tertular melalui ASI. Beberapa anak tertular oleh virus ini melalui penganiayaan seksual. HIV tidak ditularkan melalui kontak biasa atau kontak dekat yang tidak bersifat seksual di tempat bekerja, sekolah ataupun di rumah. Belum pernah dilaporkan kasus penularan HIV melalui batuk atau bersin penderita maupun melalui gigitan nyamuk. Penularan dari seorang dokter atau dokter gigi yang terinfeksi terhadap pasennya juga sangat jarang terjadi.
GEJALA
Beberapa penderita menampakkan gejala yang menyerupai mononukleosis infeksiosa dalam waktu beberapa minggu setelah terinfeksi. Gejalanya berupa demam, ruam-ruam, pembengkakan kelenjar getah bening dan rasa tidak enak badan yang berlangsung selama 3-14 hari. Sebagian besar gejala akan menghilang, meskipun kelenjar getah bening tetap membesar. Selama beberapa tahun, gejala lainnya tidak muncul. Tetapi sejumlah besar virus segera akan ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, sehingga penderita bisa menularkan penyakitnya. Dalam waktu beberapa bulan setelah terinfeksi, penderita bisa mengalami gejala-gejala yang ringn secara berulang yang belum benar-benar menunjukkan suatu AIDS. Penderita bisa menunjukkan gejala-gejala infeksi HIV dalam waktu beberapa tahun sebelum terjadinya infeksi atau tumor yang khas untuk AIDS. Gejalanya berupa: - pembengkakan kelenjar getah bening - penurunan berat badan - demam yang hilang-timbul - perasaan tidak enak badan - lelah - diare berulang - anemia - thrush (infeksi jamur di mulut). Secara definisi, AIDS dimulai dengan rendahnya jumlah limfosit CD4+ (kurang dari 200 sel/mL darah) atau terjadinya infeksi oportunistik (infeksi oleh organisme yang pada orang dengan sistem kekebalan yang baik tidak menimbulkan penyakit). Juga bisa terjadi kanker, seperti sarkoma Kaposi dan limfoma non-Hodgkin. Gejala-gejala dari AIDS berasal dari infeksi HIVnya sendiri serta infeksi oportunistik dan kanker. Tetapi hanya sedikit penderita AIDS yang meninggal karena efek langsung dari infeksi HIV. Biasanya kematian terjadi karena efek kumulatif dari berbagai infeksi oportunistik atau tumor. Organisme dan penyakit yang dalam keadaan normal hanya menimbulkan pengaruh yang kecil terhadap orang yang sehat, pada penderita AIDS bisa dengan segera menyebabkan kematian, terutama jika jumlah limfosit CD4+ mencapai 50 sel/mL darah. Beberapa infeksi oportunistik dan kanker merupakan ciri khas dari munculnya AIDS:
Thrush. Pertumbuhan berlebihan jamur Candida di dalam mulut, vagina atau kerongkongan, biasanya merupakan infeksi yang pertama muncul. Infeksi jamur vagina berulang yang sulit diobati seringkali merupakan gejala dini HIV pada wanita. Tapi infeksi seperti ini juga bisa terjadi pada wanita sehat akibat berbagai faktor seperti pil KB, antibiotik dan perubahan hormonal.
Pneumonia pneumokistik. Pneumonia karena jamur Pneumocystis carinii merupakan infeksi oportunistik yang sering berulang pada penderita AIDS. Infeksi ini seringkali merupakan infeksi oportunistik serius yang pertama kali muncul dan sebelum ditemukan cara pengobatan dan pencegahannya, merupakan penyebab tersering dari kematian pada penderita infeksi HIV
Toksoplasmosis. Infeksi kronis oleh Toxoplasma sering terjadi sejak masa kanak-kanak, tapi gejala hanya timbul pada sekelompok kecil penderita AIDS. Jika terjadi pengaktivan kembali, maka Toxoplasma bisa menyebabkan infeksi hebat, terutama di otak.
Tuberkulosis. Tuberkulosis pada penderita infeksi HIV, lebih sering terjadi dan bersifat lebih mematikan. Mikobakterium jenis lain yaitu Mycobacterium avium, merupakan penyebab dari timbulnya demam, penurunan berat badan dan diare pada penderita tuberkulosa stadium lanjut. Tuberkulosis bisa diobati dan dicegah dengan obat-obat anti tuberkulosa yang biasa digunakan.
Infeksi saluran pencernaan. Infeksi saluran pencernaan oleh parasit Cryptosporidium sering ditemukan pada penderita AIDS. Parasit ini mungkin didapat dari makanan atau air yang tercemar. Gejalanya berupa diare hebat, nyeri perut dan penurunan berat badan.
Leukoensefalopati multifokal progresif. Leukoensefalopati multifokal progresif merupakan suatu infeksi virus di otak yang bisa mempengaruhi fungsi neurologis penderita. Gejala awal biasanya berupa hilangnya kekuatan lengan atau tungkai dan hilangnya koordinasi atau keseimbangan. Dalam beberapa hari atau minggu, penderita tidak mampu berjalan dan berdiri dan biasanya beberapa bulan kemudian penderita akan meninggal.
Infeksi oleh sitomegalovirus. Infeksi ulangan cenderung terjadi pada stadium lanjut dan seringkali menyerang retina mata, menyebabkan kebutaan. Pengobatan dengan obat anti-virus bisa mengendalikan sitomegalovirus.
Sarkoma Kaposi. Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor yang tidak nyeri, berwarna merah sampai ungu, berupa bercak-bercak yang menonjol di kulit. Tumor ini terutama sering ditemukan pada pria homoseksual.
Kanker. Bisa juga terjadi kanker kelenjar getah bening (limfoma) yang mula-mula muncul di otak atau organ-organ dalam. Wanita penderita AIDS cenderung terkena kanker serviks. Pria homoseksual juga mudah terkena kanker rektum.
DIAGNOSA
Pemeriksaan yang relatif sederhana dan akurat adalah pemeriksaan darah yang disebut tes ELISA. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya antibodi terhadap HIV, hasil tes secara rutin diperkuat dengan tes yang lebih akurat. Ada suatu periode (beberapa minggu atau lebih setelah terinfeksi HI) dimana antibodi belum positif. Pada periode ini dilakukan pemeriksaan yang sangat sensitif untuk mendeteksi virus, yaitu antigen P24 . Antigen P24 belakangan ini digunakan untuk menyaringan darah yang disumbangkan untuk keperluan transfusi. Jika hasil tes ELISA menunjukkan adanya infeksi HIV, maka pada contoh darah yang sama dilakukan tes ELISA ulangan untuk memastikannya. Jika hasil tes ELISA yang kedua juga positif, maka langkah berikutnya adalah memperkuat diagnosis dengan tes darah yang lebih akurat dan lebih mahal, yaitu tes apusan Western. Tes ini juga bisam enentukan adanya antibodi terhadap HIV, tetapi lebih spesifik daripada ELISA. Jika hasil tes Western juga positif, maka dapat dipastikan orang tersebut terinfeksi HIV.
PENGOBATAN
Pada saat ini sudah banyak obat yang bisa digunakan untuk menangani infeksi HIV:
Nucleoside reverse transcriptase inhibitor - AZT (zidovudin) - ddI (didanosin) - ddC (zalsitabin) - d4T (stavudin) - 3TC (lamivudin) - Abakavir
Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor - Nevirapin - Delavirdin - Efavirenz
Protease inhibitor - Saquinavir - Ritonavir - Indinavir - Nelfinavir.
Semua obat-obatan tersebut ditujukan untuk mencegah reproduksi virus sehingga memperlambat progresivitas penyakit. HIV akan segera membentuk resistensi terhadap obat-obatan tersebut bila digunakan secara tunggal. Pengobatan paling efektif adalah kombinasi antara 2 obat atau lebih, Kombinasi obat bisa memperlambat timbulnya AIDS pada penderita HIV positif dan memperpanjang harapan hidup. Dokter kadang sulit menentukan kapan dimulainya pemberian obat-obatan ini. Tapi penderita dengan kadar virus yang tinggi dalam darah harus segera diobati walaupun kadar CD4+nya masih tinggi dan penderita tidak menunjukkan gejala apapun. AZT, ddI, d4T dan ddC menyebabkan efek samping seperti nyeri abdomen, mual dan sakit kepala (terutama AZT). Penggunaan AZT terus menerus bisa merusak sumsum tulang dan menyebabkan anemia. ddI, ddC dan d4T bisa merusak saraf-saraf perifer. ddI bisa merusak pankreas. Dalam kelompok nucleoside, 3TC tampaknya mempunyai efek samping yang paling ringan. Ketiga protease inhibitor menyebabkan efek samping mual dan muntah, diare dan gangguan perut. Indinavir menyebabkan kenaikan ringan kadar enzim hati, bersifat reversibel dan tidak menimbulkan gejala, juga menyebabkan nyeri punggung hebat (kolik renalis) yang serupa dengan nyeri yang ditimbulkan batu ginjal. Ritonavir dengan pengaruhnya pada hati menyebabkan naik atau turunnya kadar obat lain dalam darah. Kelompok protease inhibitor banyak menyebabkan perubahan metabolisme tubuh seperti peningkatan kadar gula darah dan kadar lemak, serta perubahan distribusi lemak tubuh (protease paunch). Penderita AIDS diberi obat-obatan untuk mencegah infeksi ooportunistik. Penderita dengan kadar limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mL darah mendapatkan kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol untuk mencegah pneumonia pneumokistik dan infeksi toksoplasma ke otak. Penderita dengan limfosit CD4+ kurang dari 100 sel/mL darah mendapatkan azitromisin seminggu sekali atau klaritromisin atau rifabutin setiap hari untuk mencegah infeksi Mycobacterium avium. Penderita yang bisa sembuh dari meningitis kriptokokal atau terinfeksi candida mendapatkan flukonazol jangka panjang. Penderita dengan infeksi herpes simpleks berulang mungkin memerlukan pengobatan asiklovir jangka panjang. PROGNOSIS Pemaparan terhadap HIV tidak selalu mengakibatkan penularan, beberapa orang yang terpapar HIV selama bertahun-tahun bisa tidak terinfeksi. Di sisi lain seseorang yang terinfeksi bisa tidak menampakkan gejala selama lebih dari 10 tahun. Tanpa pengobatan, infeksi HIV mempunyai resiko 1-2 % untuk menjdi AIDS pada beberapa tahun pertama. Resiko ini meningkat 5% pada setiap tahun berikutnya. Resiko terkena AIDS dalam 10-11 tahun setelah terinfeksi HIV mencapai 50%. Sebelum diketemukan obat-obat terbaru, pada akhirnya semua kasus akan menjadi AIDS. Pengobatan AIDS telah berhasil menurunkan angka infeksi oportunistik dan meningkatkan angka harapan hidup penderita. Kombinasi beberapa jenis obat berhasil menurunkan jumlah virus dalam darah sampai tidak dapat terdeteksi. Tapi belum ada penderita yang terbukti sembuh. Teknik penghitungan jumlah virus HIV (plasma RNA) dalam darah seperti polymerase chain reaction (PCR) dan branched deoxyribonucleid acid (bDNA) test membantu dokter untuk memonitor efek pengobatan dan membantu penilaian prognosis penderita. Kadar virus ini akan bervariasi mulai kurang dari beberapa ratus sampai lebih dari sejuta virus RNA/mL plasma. Pada awal penemuan virus HIV, penderita segera mengalami penurunan kualitas hidupnya setelah dirawat di rumah sakit. Hampir semua penderita akan meninggal dalam 2 tahun setelah terjangkit AIDS. Dengan perkembangan obat-obat anti virus terbaru dan metode-metode pengobatan dan pencegahan infeksi oportunistik yang terus diperbarui, penderita bisa mempertahankan kemampuan fisik dan mentalnya sampai bertahun-tahun setelah terkena AIDS. Sehingga pada saat ini bisa dikatakan bahwa AIDS sudah bisa ditangani walaupun belum bisa disembuhkan.
PENCEGAHAN
Program pencegahan penyebaran HIV dipusatkan terutama pada pendidikan masyarakat mengenai cara penularan HIV, dengan tujuan merubah kebiasaan orang-orang yang beresiko tinggi untuk tertular. Cara-cara pencegahan ini adalah:
Untuk orang sehat - Abstinens (tidak melakukan hubungan seksual) - Seks aman (terlindung)
Untuk penderita HIV positif - Abstinens - Seks aman - Tidak mendonorkan darah atau organ - Mencegah kehamilan - Memberitahu mitra seksualnya sebelum dan sesudah diketahui terinfeksi
Untuk penyalahguna obat-obatan - Menghentikan penggunaan suntikan bekas atau bersama-sama - Mengikuti program rehabilitasi
Untuk profesional kesehatan - Menggunakan sarung tangan lateks pada setiap kontak dengan cairan tubuh - Menggunakan jarum sekali pakai
Bermacam-macam vaksin sudah dicoba untuk mencegah dan memperlambat progresivitas penyakit, tapi sejauh ini belum ada yang berhasil. Rumah sakit biasanya tidak mengisolasi penderita HIV kecuali penderita mengidap penyakit menular seperti tuberkulosa. Permukaan-permukaan yang terkontaminasi HIV dengan mudah bisa dibersihkan dan disucihamakan karena virus ini rusak oleh panas dan cairan desinfektan yang biasa digunakan seperti hidrogen peroksida dan alkohol.
DEFINISI
Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu infeksi oleh salah satu dari 2 jenis virus yang secara progresif merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit, menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan penyakit lainnya sebagai akibat dari gangguan kekebalan tubuh. Pada awal tahun 1980, para peneliti menemukan peningkatan mendadak dari 2 jenis penyakit di kalangan kaum homoseksual di Amerika. Kedua penyakit itu adalah sarkoma Kaposi (sejenis kanker yang jarang terjadi) dan pneumonia pneumokista (sejenis pneumonia yang hanya terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan). Kegagalan sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan timbulnya 2 jenis penyakit yang jarang ditemui ini sekarang dikenal dengan AIDS. Kegagalan sistem kekebalan juga ditemukan pada para pengguna obat-obatan terlarang yang disuntikkan, penderita hemofilia, penerima transfusi darah dan pria biseksual. Beberapa waktu kemudian sindroma ini juga mulai terjadi pada heteroseksual yang bukan pengguna obat-obatan, bukan penderita hemofilia dan tidak menerima transfusi darah. AIDS sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat dengan lebih dari 500.000 orang terjangkit dan 300.000 meninggal sampai bulan Oktober 1995. WHO memperkirakan 30-40 juta penduduk dunia akan terinfeksi HIV pada tahun 2000.
PENYEBAB
Terdapat 2 jenis virus penyebab AIDS, yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 paling banyak ditemukan di daerah barat, Eropa, Asia dan Afrika Tengah, Selatan dan Timur. HIV-2 terutama ditemukan di Afrika Barat. PERJALANAN PENYAKIT Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit. Materi genetik virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi. Di dalam sel, virus berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya. Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker. Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun:
Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi.
Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS.
1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi.
Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang. PENULARAN Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh yang mengandung sel terinfeksi atau partikel virus. Yang dimaksud dengan cairan tubuh disini adalah darah, semen, cairan vagina, cairan serebrospinal dan air susu ibu. Dalam konsentrasi yang lebih kecil, virus juga terdapat di dalam air mata, air kemihi dan air ludah. HIV ditularkan melalui cara-cara berikut:
· Hubungan seksual dengan penderita, dimana selaput lendir mulut, vagina atau rektum berhubungan langsung dengan cairan tubuh yang terkontaminasi
· Suntikan atau infus darah yang terkontaminasi, seperti yang terjadi pada transfusi darah, pemakaian jarum bersama-sama atau tidak sengaja tergores oleh jarum yang terkontaminasi virus HIV
· Pemindahan virus dari ibu yang terinfeksi kepada anaknya sebelum atau selama proses kelahiran atau melalui ASI. Kemungkinan terinfeksi oleh HIV meningkat jika kulit atau selaput lendir robek atau rusak, seperti yang bisa terjadi pada hubungan seksual yang kasar, baik melalui vagina maupun melalui anus. Penelitian menunjukkan kemungkinan penularan HIV sangat tinggi pada pasangan seksual yang menderita herpes, sifilis atau penyakit menular seksual lainnya, yang mengakibatkan kerusakan pada permukaan kulit. Penularan juga bisa terjadi pada oral seks (hubungan seksual melalui mulut), walaupun lebih jarang. Virus pada penderita wanita yang sedang hamil bisa ditularkan kepada janinnya pada awal kehamilan (melalui plasenta) atau pada saat persalinan (melalui jalan lahir). Anak-anak yang sedang disusui oleh ibu yang terinfeksi HIV bisa tertular melalui ASI. Beberapa anak tertular oleh virus ini melalui penganiayaan seksual. HIV tidak ditularkan melalui kontak biasa atau kontak dekat yang tidak bersifat seksual di tempat bekerja, sekolah ataupun di rumah. Belum pernah dilaporkan kasus penularan HIV melalui batuk atau bersin penderita maupun melalui gigitan nyamuk. Penularan dari seorang dokter atau dokter gigi yang terinfeksi terhadap pasennya juga sangat jarang terjadi.
GEJALA
Beberapa penderita menampakkan gejala yang menyerupai mononukleosis infeksiosa dalam waktu beberapa minggu setelah terinfeksi. Gejalanya berupa demam, ruam-ruam, pembengkakan kelenjar getah bening dan rasa tidak enak badan yang berlangsung selama 3-14 hari. Sebagian besar gejala akan menghilang, meskipun kelenjar getah bening tetap membesar. Selama beberapa tahun, gejala lainnya tidak muncul. Tetapi sejumlah besar virus segera akan ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, sehingga penderita bisa menularkan penyakitnya. Dalam waktu beberapa bulan setelah terinfeksi, penderita bisa mengalami gejala-gejala yang ringn secara berulang yang belum benar-benar menunjukkan suatu AIDS. Penderita bisa menunjukkan gejala-gejala infeksi HIV dalam waktu beberapa tahun sebelum terjadinya infeksi atau tumor yang khas untuk AIDS. Gejalanya berupa: - pembengkakan kelenjar getah bening - penurunan berat badan - demam yang hilang-timbul - perasaan tidak enak badan - lelah - diare berulang - anemia - thrush (infeksi jamur di mulut). Secara definisi, AIDS dimulai dengan rendahnya jumlah limfosit CD4+ (kurang dari 200 sel/mL darah) atau terjadinya infeksi oportunistik (infeksi oleh organisme yang pada orang dengan sistem kekebalan yang baik tidak menimbulkan penyakit). Juga bisa terjadi kanker, seperti sarkoma Kaposi dan limfoma non-Hodgkin. Gejala-gejala dari AIDS berasal dari infeksi HIVnya sendiri serta infeksi oportunistik dan kanker. Tetapi hanya sedikit penderita AIDS yang meninggal karena efek langsung dari infeksi HIV. Biasanya kematian terjadi karena efek kumulatif dari berbagai infeksi oportunistik atau tumor. Organisme dan penyakit yang dalam keadaan normal hanya menimbulkan pengaruh yang kecil terhadap orang yang sehat, pada penderita AIDS bisa dengan segera menyebabkan kematian, terutama jika jumlah limfosit CD4+ mencapai 50 sel/mL darah. Beberapa infeksi oportunistik dan kanker merupakan ciri khas dari munculnya AIDS:
Thrush. Pertumbuhan berlebihan jamur Candida di dalam mulut, vagina atau kerongkongan, biasanya merupakan infeksi yang pertama muncul. Infeksi jamur vagina berulang yang sulit diobati seringkali merupakan gejala dini HIV pada wanita. Tapi infeksi seperti ini juga bisa terjadi pada wanita sehat akibat berbagai faktor seperti pil KB, antibiotik dan perubahan hormonal.
Pneumonia pneumokistik. Pneumonia karena jamur Pneumocystis carinii merupakan infeksi oportunistik yang sering berulang pada penderita AIDS. Infeksi ini seringkali merupakan infeksi oportunistik serius yang pertama kali muncul dan sebelum ditemukan cara pengobatan dan pencegahannya, merupakan penyebab tersering dari kematian pada penderita infeksi HIV
Toksoplasmosis. Infeksi kronis oleh Toxoplasma sering terjadi sejak masa kanak-kanak, tapi gejala hanya timbul pada sekelompok kecil penderita AIDS. Jika terjadi pengaktivan kembali, maka Toxoplasma bisa menyebabkan infeksi hebat, terutama di otak.
Tuberkulosis. Tuberkulosis pada penderita infeksi HIV, lebih sering terjadi dan bersifat lebih mematikan. Mikobakterium jenis lain yaitu Mycobacterium avium, merupakan penyebab dari timbulnya demam, penurunan berat badan dan diare pada penderita tuberkulosa stadium lanjut. Tuberkulosis bisa diobati dan dicegah dengan obat-obat anti tuberkulosa yang biasa digunakan.
Infeksi saluran pencernaan. Infeksi saluran pencernaan oleh parasit Cryptosporidium sering ditemukan pada penderita AIDS. Parasit ini mungkin didapat dari makanan atau air yang tercemar. Gejalanya berupa diare hebat, nyeri perut dan penurunan berat badan.
Leukoensefalopati multifokal progresif. Leukoensefalopati multifokal progresif merupakan suatu infeksi virus di otak yang bisa mempengaruhi fungsi neurologis penderita. Gejala awal biasanya berupa hilangnya kekuatan lengan atau tungkai dan hilangnya koordinasi atau keseimbangan. Dalam beberapa hari atau minggu, penderita tidak mampu berjalan dan berdiri dan biasanya beberapa bulan kemudian penderita akan meninggal.
Infeksi oleh sitomegalovirus. Infeksi ulangan cenderung terjadi pada stadium lanjut dan seringkali menyerang retina mata, menyebabkan kebutaan. Pengobatan dengan obat anti-virus bisa mengendalikan sitomegalovirus.
Sarkoma Kaposi. Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor yang tidak nyeri, berwarna merah sampai ungu, berupa bercak-bercak yang menonjol di kulit. Tumor ini terutama sering ditemukan pada pria homoseksual.
Kanker. Bisa juga terjadi kanker kelenjar getah bening (limfoma) yang mula-mula muncul di otak atau organ-organ dalam. Wanita penderita AIDS cenderung terkena kanker serviks. Pria homoseksual juga mudah terkena kanker rektum.
DIAGNOSA
Pemeriksaan yang relatif sederhana dan akurat adalah pemeriksaan darah yang disebut tes ELISA. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya antibodi terhadap HIV, hasil tes secara rutin diperkuat dengan tes yang lebih akurat. Ada suatu periode (beberapa minggu atau lebih setelah terinfeksi HI) dimana antibodi belum positif. Pada periode ini dilakukan pemeriksaan yang sangat sensitif untuk mendeteksi virus, yaitu antigen P24 . Antigen P24 belakangan ini digunakan untuk menyaringan darah yang disumbangkan untuk keperluan transfusi. Jika hasil tes ELISA menunjukkan adanya infeksi HIV, maka pada contoh darah yang sama dilakukan tes ELISA ulangan untuk memastikannya. Jika hasil tes ELISA yang kedua juga positif, maka langkah berikutnya adalah memperkuat diagnosis dengan tes darah yang lebih akurat dan lebih mahal, yaitu tes apusan Western. Tes ini juga bisam enentukan adanya antibodi terhadap HIV, tetapi lebih spesifik daripada ELISA. Jika hasil tes Western juga positif, maka dapat dipastikan orang tersebut terinfeksi HIV.
PENGOBATAN
Pada saat ini sudah banyak obat yang bisa digunakan untuk menangani infeksi HIV:
Nucleoside reverse transcriptase inhibitor - AZT (zidovudin) - ddI (didanosin) - ddC (zalsitabin) - d4T (stavudin) - 3TC (lamivudin) - Abakavir
Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor - Nevirapin - Delavirdin - Efavirenz
Protease inhibitor - Saquinavir - Ritonavir - Indinavir - Nelfinavir.
Semua obat-obatan tersebut ditujukan untuk mencegah reproduksi virus sehingga memperlambat progresivitas penyakit. HIV akan segera membentuk resistensi terhadap obat-obatan tersebut bila digunakan secara tunggal. Pengobatan paling efektif adalah kombinasi antara 2 obat atau lebih, Kombinasi obat bisa memperlambat timbulnya AIDS pada penderita HIV positif dan memperpanjang harapan hidup. Dokter kadang sulit menentukan kapan dimulainya pemberian obat-obatan ini. Tapi penderita dengan kadar virus yang tinggi dalam darah harus segera diobati walaupun kadar CD4+nya masih tinggi dan penderita tidak menunjukkan gejala apapun. AZT, ddI, d4T dan ddC menyebabkan efek samping seperti nyeri abdomen, mual dan sakit kepala (terutama AZT). Penggunaan AZT terus menerus bisa merusak sumsum tulang dan menyebabkan anemia. ddI, ddC dan d4T bisa merusak saraf-saraf perifer. ddI bisa merusak pankreas. Dalam kelompok nucleoside, 3TC tampaknya mempunyai efek samping yang paling ringan. Ketiga protease inhibitor menyebabkan efek samping mual dan muntah, diare dan gangguan perut. Indinavir menyebabkan kenaikan ringan kadar enzim hati, bersifat reversibel dan tidak menimbulkan gejala, juga menyebabkan nyeri punggung hebat (kolik renalis) yang serupa dengan nyeri yang ditimbulkan batu ginjal. Ritonavir dengan pengaruhnya pada hati menyebabkan naik atau turunnya kadar obat lain dalam darah. Kelompok protease inhibitor banyak menyebabkan perubahan metabolisme tubuh seperti peningkatan kadar gula darah dan kadar lemak, serta perubahan distribusi lemak tubuh (protease paunch). Penderita AIDS diberi obat-obatan untuk mencegah infeksi ooportunistik. Penderita dengan kadar limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mL darah mendapatkan kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol untuk mencegah pneumonia pneumokistik dan infeksi toksoplasma ke otak. Penderita dengan limfosit CD4+ kurang dari 100 sel/mL darah mendapatkan azitromisin seminggu sekali atau klaritromisin atau rifabutin setiap hari untuk mencegah infeksi Mycobacterium avium. Penderita yang bisa sembuh dari meningitis kriptokokal atau terinfeksi candida mendapatkan flukonazol jangka panjang. Penderita dengan infeksi herpes simpleks berulang mungkin memerlukan pengobatan asiklovir jangka panjang. PROGNOSIS Pemaparan terhadap HIV tidak selalu mengakibatkan penularan, beberapa orang yang terpapar HIV selama bertahun-tahun bisa tidak terinfeksi. Di sisi lain seseorang yang terinfeksi bisa tidak menampakkan gejala selama lebih dari 10 tahun. Tanpa pengobatan, infeksi HIV mempunyai resiko 1-2 % untuk menjdi AIDS pada beberapa tahun pertama. Resiko ini meningkat 5% pada setiap tahun berikutnya. Resiko terkena AIDS dalam 10-11 tahun setelah terinfeksi HIV mencapai 50%. Sebelum diketemukan obat-obat terbaru, pada akhirnya semua kasus akan menjadi AIDS. Pengobatan AIDS telah berhasil menurunkan angka infeksi oportunistik dan meningkatkan angka harapan hidup penderita. Kombinasi beberapa jenis obat berhasil menurunkan jumlah virus dalam darah sampai tidak dapat terdeteksi. Tapi belum ada penderita yang terbukti sembuh. Teknik penghitungan jumlah virus HIV (plasma RNA) dalam darah seperti polymerase chain reaction (PCR) dan branched deoxyribonucleid acid (bDNA) test membantu dokter untuk memonitor efek pengobatan dan membantu penilaian prognosis penderita. Kadar virus ini akan bervariasi mulai kurang dari beberapa ratus sampai lebih dari sejuta virus RNA/mL plasma. Pada awal penemuan virus HIV, penderita segera mengalami penurunan kualitas hidupnya setelah dirawat di rumah sakit. Hampir semua penderita akan meninggal dalam 2 tahun setelah terjangkit AIDS. Dengan perkembangan obat-obat anti virus terbaru dan metode-metode pengobatan dan pencegahan infeksi oportunistik yang terus diperbarui, penderita bisa mempertahankan kemampuan fisik dan mentalnya sampai bertahun-tahun setelah terkena AIDS. Sehingga pada saat ini bisa dikatakan bahwa AIDS sudah bisa ditangani walaupun belum bisa disembuhkan.
PENCEGAHAN
Program pencegahan penyebaran HIV dipusatkan terutama pada pendidikan masyarakat mengenai cara penularan HIV, dengan tujuan merubah kebiasaan orang-orang yang beresiko tinggi untuk tertular. Cara-cara pencegahan ini adalah:
Untuk orang sehat - Abstinens (tidak melakukan hubungan seksual) - Seks aman (terlindung)
Untuk penderita HIV positif - Abstinens - Seks aman - Tidak mendonorkan darah atau organ - Mencegah kehamilan - Memberitahu mitra seksualnya sebelum dan sesudah diketahui terinfeksi
Untuk penyalahguna obat-obatan - Menghentikan penggunaan suntikan bekas atau bersama-sama - Mengikuti program rehabilitasi
Untuk profesional kesehatan - Menggunakan sarung tangan lateks pada setiap kontak dengan cairan tubuh - Menggunakan jarum sekali pakai
Bermacam-macam vaksin sudah dicoba untuk mencegah dan memperlambat progresivitas penyakit, tapi sejauh ini belum ada yang berhasil. Rumah sakit biasanya tidak mengisolasi penderita HIV kecuali penderita mengidap penyakit menular seperti tuberkulosa. Permukaan-permukaan yang terkontaminasi HIV dengan mudah bisa dibersihkan dan disucihamakan karena virus ini rusak oleh panas dan cairan desinfektan yang biasa digunakan seperti hidrogen peroksida dan alkohol.
Friday, October 19, 2007
HIDUP SEHAT BERSAMA PENYAKIT GINJAL
HIDUP SEHAT BERSAMA PENYAKIT GINJAL
http://widayanto-widayanto.blogspot.com
Istilah ini saya dapat dari bapakku M. Hadiwacono, ketika beliau saya antarkan untuk melakukan HD, beliau sudah sejak April 2005 menderita Gagal Ginjal Kronik dan harus HD seminggu sekali. Setiap kami akan mengantar beliau HD beliau selalu mengatakan :”bapak mau mengambil SK perpanjangan hidup sehat”, dengan nada gembira dan penuh keyakinan. Saya sangat senang mendengarnya walaupun saat ini usia telah 84 tahunan tetapi masih mempunyai semangat hidup yang tinggi. Bapak selalu mengatakan kepada saya bahwa penyakit dan rezeki adalah anugrah dari Allah yang harus selalu disyukuri dan dinikmati untuk meningkatkan keimanan kita.
HD bagi beliau dianggab sebagai perpanjangan SK untuk menikmati hidup, ternyata pendapat inipun saya temui juga pada teman pasien yang kebetulan HD bersama-sama beliau di RSU Banyumas , tawa, canda dan kegembiraan dalam melakukan HD membuat suasana di ruang HD menjadi sangat menyenangkan, bahkan ada seorang peserta HD yang secara bergurau menanyakan pada saya: “kalau saya ikut pencalonan Bupati, apakah pak dokter mau memberikan surat keterangan sehat?”, tentu saja semua itu menjadi bahan humor yang sangat menarik sekaligus menjadi renungan kita semua. Pasien yang selama ini melakukan HD secara rutin dapat beraktifitas secara normal dan baik, bahkan ada yang masih memimpin perusahaannya dengan lancar, penyakitnya tidak diketahui oleh karyawannya.
Dalam hal pertanyaan yang dianggap sebagai bahan gurauan itu terkandung suatu makna yang sangat dalam sekali, ternyata orang yang menderita suatu penyakit tidaklah harus sakit, tetapi dapat pula hidup secara sehat.
Ternyata bila kita perhatikan banyak sekali orang yang hidup sehat dengan tetap membawa setatus penyakitnya, seperti orang dengan DM ( kencingManis), hipertensi, hepatitis, dan sebagainya termasuk ODHA (orang dengan HIV aids), mereka-mereka itu dalan status sakit tetapi dalam kehidupan sehari-hari dapat hidup secara normal seperti orang sehat, penyakitnya hanya diketahui oleh pasien saja dan dokternya.
Sering bertemu dengan pasien – pasien dengan status demikian, kita perlu banyak belajar tentang filosofi mereka tentang hidup sehat. Mereka menganggap hidup dengan penyakitnya itu adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan untuk menjalani hidup ini, sehingga harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk bekal diakherat nanti.
Pelajaran tentang hidup sehat dengan penyakit yang diderita tentu sangatlah komplek karena seseorang haruslah berubah gaya hidupnya agar sesuai dengan penyakitnya.
Penyakit bukanlah alasan untuk harus menderita, penyakit dapat dinikmati dengan menyenangkan. Suasana di ruang HD yang penuh canda sesama pasien membuat mereka menikmati hidup dengan menyenangkan. Setelah HD mereka hidup kembali dengan sehat sampai waktunya HD lagi.
Dr. Widayanto, Mkes,
Email : widayantodr@yahoo.co.id atau http://widayanto-widayanto.blogspot.com
http://widayanto-widayanto.blogspot.com
Istilah ini saya dapat dari bapakku M. Hadiwacono, ketika beliau saya antarkan untuk melakukan HD, beliau sudah sejak April 2005 menderita Gagal Ginjal Kronik dan harus HD seminggu sekali. Setiap kami akan mengantar beliau HD beliau selalu mengatakan :”bapak mau mengambil SK perpanjangan hidup sehat”, dengan nada gembira dan penuh keyakinan. Saya sangat senang mendengarnya walaupun saat ini usia telah 84 tahunan tetapi masih mempunyai semangat hidup yang tinggi. Bapak selalu mengatakan kepada saya bahwa penyakit dan rezeki adalah anugrah dari Allah yang harus selalu disyukuri dan dinikmati untuk meningkatkan keimanan kita.
HD bagi beliau dianggab sebagai perpanjangan SK untuk menikmati hidup, ternyata pendapat inipun saya temui juga pada teman pasien yang kebetulan HD bersama-sama beliau di RSU Banyumas , tawa, canda dan kegembiraan dalam melakukan HD membuat suasana di ruang HD menjadi sangat menyenangkan, bahkan ada seorang peserta HD yang secara bergurau menanyakan pada saya: “kalau saya ikut pencalonan Bupati, apakah pak dokter mau memberikan surat keterangan sehat?”, tentu saja semua itu menjadi bahan humor yang sangat menarik sekaligus menjadi renungan kita semua. Pasien yang selama ini melakukan HD secara rutin dapat beraktifitas secara normal dan baik, bahkan ada yang masih memimpin perusahaannya dengan lancar, penyakitnya tidak diketahui oleh karyawannya.
Dalam hal pertanyaan yang dianggap sebagai bahan gurauan itu terkandung suatu makna yang sangat dalam sekali, ternyata orang yang menderita suatu penyakit tidaklah harus sakit, tetapi dapat pula hidup secara sehat.
Ternyata bila kita perhatikan banyak sekali orang yang hidup sehat dengan tetap membawa setatus penyakitnya, seperti orang dengan DM ( kencingManis), hipertensi, hepatitis, dan sebagainya termasuk ODHA (orang dengan HIV aids), mereka-mereka itu dalan status sakit tetapi dalam kehidupan sehari-hari dapat hidup secara normal seperti orang sehat, penyakitnya hanya diketahui oleh pasien saja dan dokternya.
Sering bertemu dengan pasien – pasien dengan status demikian, kita perlu banyak belajar tentang filosofi mereka tentang hidup sehat. Mereka menganggap hidup dengan penyakitnya itu adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan untuk menjalani hidup ini, sehingga harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk bekal diakherat nanti.
Pelajaran tentang hidup sehat dengan penyakit yang diderita tentu sangatlah komplek karena seseorang haruslah berubah gaya hidupnya agar sesuai dengan penyakitnya.
Penyakit bukanlah alasan untuk harus menderita, penyakit dapat dinikmati dengan menyenangkan. Suasana di ruang HD yang penuh canda sesama pasien membuat mereka menikmati hidup dengan menyenangkan. Setelah HD mereka hidup kembali dengan sehat sampai waktunya HD lagi.
Dr. Widayanto, Mkes,
Email : widayantodr@yahoo.co.id atau http://widayanto-widayanto.blogspot.com
Thursday, October 18, 2007
HIDUP SEHAT DENGAN PENYAKIT
HIDUP SEHAT DENGAN PENYAKIT
Oleh : dr. Widayanto, Mkes
Bidang Mutu dan Pendidikan RSU Banyumas
Pendahuluaan :
Banyak penyakit yang selalu terbawa oleh seseorang sampai akhir hayatnya, walaupun orang tersebut dalam hidup yang wajar. Seseorang yang divonis telah menderita penyakit, masih dapat hidup secara sehat dan wajar. Beberapa orang yang menderita penyakit tetapi masih dapat hidup secara sehat, seperti orang dengan hipertensi, diabetes militus, buta-warna, ODHA(orang dengan HIV aids) dan banyak lagi, dalam artikel ini akan dibahas beberapa penyakit dan bagaimana cara hidup sehat dengan penyakit yang dideritanya.
1. Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)
DEFINISI
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri.
Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik).
Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan puluh.
Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya.
Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik.
Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut.
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.
Hipertensi maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak diobati, akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan.
Hipertensi ini jarang terjadi, hanya 1 dari setiap 200 penderita hipertensi.
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa.
Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat.
Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari.
Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa
Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Normal Dibawah 130 mmHg Dibawah 85 mmHg
Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
Stadium 1
(Hipertensi ringan) 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Stadium 2
(Hipertensi sedang) 160-179 mmHg 100-109 mmHg
Stadium 3
(Hipertensi berat) 180-209 mmHg 110-119 mmHg
Stadium 4
(Hipertensi maligna) 210 mmHg atau lebih 120 mmHg atau lebih
PENGENDALIAN TEKANAN DARAH
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).
1. Perubahan fungsi ginjal
Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara:
Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi.
Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.
2. Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom, yang untuk sementara waktu akan:
PENYEBAB
Pada sekitar 90% penderita hipertensi, penyebabnya tidak diketahui dan keadaan ini dikenal sebagai hipertensi esensial atau hipertensi primer.
Hipertensi esensial kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder.
Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal.
Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).
Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan.
Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal.
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
1. Penyakit Ginjal
- Stenosis arteri renalis
- Pielonefritis
- Glomerulonefritis
- Tumor-tumor ginjal
- Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
- Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
- Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
2. Kelainan Hormonal
- Hiperaldosteronisme
- Sindroma Cushing
- Feokromositoma
3. Obat-obatan
- Pil KB
- Kortikosteroid
- Siklosporin
- Eritropoietin
- Kokain
- Penyalahgunaan alkohol
- Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4. Penyebab Lainnya
- Koartasio aorta
- Preeklamsi pada kehamilan
- Porfiria intermiten akut
- Keracunan timbal akut.
GEJALA
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak).
Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:
- sakit kepala
- kelelahan
- mual
- muntah
- sesak nafas
- gelisah
- pandangan menjadi kabur
yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak.
Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.
DIAGNOSA
Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk atau berbaring selama 5 menit.
Angka 140/90 mmHg atau lebih dapat diartikan sebagai hipertensi, tetapi diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu kali pengukuran.
Jika pada pengukuran pertama memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah diukur kembali dan kemudian diukur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan adanya hipertensi.
Hasil pengukuran bukan hanya menentukan adanya tekanan darah tinggi, tetepi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi.
Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama, terutama pembuluh darah, jantung, otak dan ginjal.
Retina (selaput peka cahaya pada permukaan dalam bagian belakang mata) merupakan satu-satunya bagian tubuh yang secara langsung bisa menunjukkan adanya efek dari hipertensi terhadap arteriola (pembuluh darah kecil). Dengan anggapan bahwa perubahan yang terjadi di dalam retina mirip dengan perubahan yang terjadi di dalam pembuluh darah lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal.
Untuk memeriksa retina, digunakan suatu oftalmoskop. Dengan menentukan derajat kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi.
Perubahan di dalam jantung, terutama pembesaran jantung, bisa ditemukan pada elektrokardiografi (EKG) dan foto rontgen dada.
Pada stadium awal, perubahan tersebut bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan dengan gelombang ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung).
Bunyi jantung yang abnormal (disebut bunyi jantung keempat), bisa didengar melalui stetoskop dan merupakan perubahan jantung paling awal yang terjadi akibat tekanan darah tinggi.
Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal bisa diketahui terutama melalui pemeriksaan air kemih.
Adanya sel darah dan albumin (sejenis protein) dalam air kemih bisa merupakan petunjuk terjadinya kerusakan ginjal.
Pemeriksaan untuk menentukan penyebab dari hipertensi terutama dilakukan pada penderita usia muda.
Pemeriksaan ini bisa berupa rontgen dan radioisotop ginjal, rontgen dada serta pemeriksaan darah dan air kemih untuk hormon tertentu.
Untuk menemukan adanya kelainan ginjal, ditanyakan mengenai riwayat kelainan ginjal sebelumnya.
Sebuah stetoskop ditempelkan diatas perut untuk mendengarkan adanya bruit (suara yang terjadi karena darah mengalir melalui arteri yang menuju ke ginjal, yang mengalami penyempitan).
Dilakukan analisa air kemih dan rontgen atau USG ginjal.
Jika penyebabnya adalah feokromositoma, maka di dalam air kemih bisa ditemukan adanya bahan-bahan hasil penguraian hormon epinefrin dan norepinefrin.
Biasanya hormon tersebut juga menyebabkan gejala sakit kepala, kecemasan, palpitasi (jantung berdebar-debar), keringat yang berlebihan, tremor (gemetar) dan pucat.
Penyebab lainnya bisa ditemukan melalui pemeriksaan rutin tertentu.
Misalnya mengukur kadar kalium dalam darah bisa membantu menemukan adanya hiperaldosteronisme dan mengukur tekanan darah pada kedua lengan dan tungkai bisa membantu menemukan adanya koartasio aorta.
PENGOBATAN
Hipertensi esensial tidak dapat diobati tetapi dapat diberikan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Langkah awal biasanya adalah merubah pola hidup penderita:
1. Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat badan dianjurkan untuk menurunkan berat badannya sampai batas ideal.
2. Merubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan atau kadar kolesterol darah tinggi.
Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3 gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup) dan mengurangi alkohol.
3. Olah raga aerobik yang tidak terlalu berat.
Penderita hipertensi esensial tidak perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali.
4. Berhenti merokok.
PEMBERIAN OBAT-OBATAN
1. Diuretik thiazide biasanya merupakan obat pertama yang diberikan untuk mengobati hipertensi.
Diuretik membantu ginjal membuang garam dan air, yang akan mengurangi volume cairan di seluruh tubuh sehingga menurunkan tekanan darah.
Diuretik juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah.
Diuretik menyebabkan hilangnya kalium melalui air kemih, sehingga kadang diberikan tambahan kalium atau obat penahan kalium.
Diuretik sangat efektif pada:
- orang kulit hitam
- lanjut usia
- kegemukan
- penderita gagal jantung atau penyakit ginjal menahun
2. Penghambat adrenergik merupakan sekelompok obat yang terdiri dari alfa-blocker, beta-blocker dan alfa-beta-blocker labetalol, yang menghambat efek sistem saraf simpatis.
Sistem saraf simpatis adalah sistem saraf yang dengan segera akan memberikan respon terhadap stres, dengan cara meningkatkan tekanan darah.
Yang paling sering digunakan adalah beta-blocker, yang efektif diberikan kepada:
- penderita usia muda
- penderita yang pernah mengalami serangan jantung
- penderita dengan denyut jantung yang cepat
- angina pektoris (nyeri dada)
- sakit kepala migren.
3. Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-inhibitor) menyebabkan penurunan tekanan darah dengan cara melebarkan arteri.
Obat ini efektif diberikan kepada:
- orang kulit putih
- usia muda
- penderita gagal jantung
- penderita dengan protein dalam air kemihnya yang disebabkan oleh penyakit ginjal menahun atau penyakit ginjal diabetik
- pria yang menderita impotensi sebagai efek samping dari obat yang lain.
4. Angiotensin-II-bloker menyebabkan penurunan tekanan darah dengan suatu mekanisme yang mirip dengan ACE-inhibitor.
5. Antagonis kalsium menyebabkan melebarnya pembuluh darah dengan mekanisme yang benar-benar berbeda.
Sangat efektif diberikan kepada:
- orang kulit hitam
- lanjut usia
- penderita angina pektoris (nyeri dada)
- denyut jantung yang cepat
- sakit kepala migren.
6. Vasodilator langsung menyebabkan melebarnya pembuluh darah.
Obat dari golongan ini hampir selalu digunakan sebagai tambahan terhadap obat anti-hipertensi lainnya.
7. Kedaruratan hipertensi (misalnya hipertensi maligna) memerlukan obat yang menurunkan tekanan darah tinggi dengan segera.
Beberapa obat bisa menurunkan tekanan darah dengan cepat dan sebagian besar diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah):
- diazoxide
- nitroprusside
- nitroglycerin
- labetalol.
Nifedipine merupakan kalsium antagonis dengan kerja yang sangat cepat dan bisa diberikan per-oral (ditelan), tetapi obat ini bisa menyebabkan hipotensi, sehingga pemberiannya harus diawasi secara ketat.
8. PENGELOLAAN HIPERTENSI SEKUNDER
Pengobatan hipertensi sekunder tergantung kepada penyebabnya.
Mengatasi penyakit ginjal kadang dapat mengembalikan tekanan darah ke normal atau paling tidak menurunkan tekanan darah.
Penyempitan arteri bisa diatasi dengan memasukkan selang yang pada ujungnya terpasang balon dan mengembangkan balon tersebut.
Atau bisa dilakukan pembedahan untuk membuat jalan pintas (operasi bypass).
Tumor yang menyebabkan hipertensi (misalnya feokromositoma) biasanya diangkat melalui pembedahan.
PENCEGAHAN
Perubahan gaya hidup bisa membantu mengendalikan tekanan darah tinggi.

BUAH DAN SAYURAN YANG DIANJURKAN:
1) APEL
2) ASPARAGUS
3) BELIMBING
4) BELIMBING WULUH
5) BUNCIS
6) KAPRI MANIS
7) KESEMEK
8) MENTIMUN
9) SELADA
10) SELEDRI
11) WORTEL
Oleh : dr. Widayanto, Mkes
Bidang Mutu dan Pendidikan RSU Banyumas
Pendahuluaan :
Banyak penyakit yang selalu terbawa oleh seseorang sampai akhir hayatnya, walaupun orang tersebut dalam hidup yang wajar. Seseorang yang divonis telah menderita penyakit, masih dapat hidup secara sehat dan wajar. Beberapa orang yang menderita penyakit tetapi masih dapat hidup secara sehat, seperti orang dengan hipertensi, diabetes militus, buta-warna, ODHA(orang dengan HIV aids) dan banyak lagi, dalam artikel ini akan dibahas beberapa penyakit dan bagaimana cara hidup sehat dengan penyakit yang dideritanya.
1. Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)
DEFINISI
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri.
Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik).
Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan puluh.
Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya.
Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik.
Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut.
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.
Hipertensi maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak diobati, akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan.
Hipertensi ini jarang terjadi, hanya 1 dari setiap 200 penderita hipertensi.
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa.
Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat.
Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari.
Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa
Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Normal Dibawah 130 mmHg Dibawah 85 mmHg
Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
Stadium 1
(Hipertensi ringan) 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Stadium 2
(Hipertensi sedang) 160-179 mmHg 100-109 mmHg
Stadium 3
(Hipertensi berat) 180-209 mmHg 110-119 mmHg
Stadium 4
(Hipertensi maligna) 210 mmHg atau lebih 120 mmHg atau lebih
PENGENDALIAN TEKANAN DARAH
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
- Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya
- Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis.
- Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
- Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.
- Sebaliknya, jika: aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran, banyak cairan keluar dari sirkulasi maka tekanan darah akan menurun.
Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).
1. Perubahan fungsi ginjal
Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara:
- - Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekana darah ke normal.
- - Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal.
- - Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensi, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron.
Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi.
Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.
2. Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom, yang untuk sementara waktu akan:
- - meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar)
- - meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; juga mempersempit sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak)
- - mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan meningkatkan volume darah dalam tubuh
- - melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh darah.
PENYEBAB
Pada sekitar 90% penderita hipertensi, penyebabnya tidak diketahui dan keadaan ini dikenal sebagai hipertensi esensial atau hipertensi primer.
Hipertensi esensial kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder.
Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal.
Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).
Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan.
Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal.
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
1. Penyakit Ginjal
- Stenosis arteri renalis
- Pielonefritis
- Glomerulonefritis
- Tumor-tumor ginjal
- Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
- Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
- Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
2. Kelainan Hormonal
- Hiperaldosteronisme
- Sindroma Cushing
- Feokromositoma
3. Obat-obatan
- Pil KB
- Kortikosteroid
- Siklosporin
- Eritropoietin
- Kokain
- Penyalahgunaan alkohol
- Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4. Penyebab Lainnya
- Koartasio aorta
- Preeklamsi pada kehamilan
- Porfiria intermiten akut
- Keracunan timbal akut.
GEJALA
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak).
Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:
- sakit kepala
- kelelahan
- mual
- muntah
- sesak nafas
- gelisah
- pandangan menjadi kabur
yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak.
Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.
DIAGNOSA
Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk atau berbaring selama 5 menit.
Angka 140/90 mmHg atau lebih dapat diartikan sebagai hipertensi, tetapi diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu kali pengukuran.
Jika pada pengukuran pertama memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah diukur kembali dan kemudian diukur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan adanya hipertensi.
Hasil pengukuran bukan hanya menentukan adanya tekanan darah tinggi, tetepi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi.
Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama, terutama pembuluh darah, jantung, otak dan ginjal.
Retina (selaput peka cahaya pada permukaan dalam bagian belakang mata) merupakan satu-satunya bagian tubuh yang secara langsung bisa menunjukkan adanya efek dari hipertensi terhadap arteriola (pembuluh darah kecil). Dengan anggapan bahwa perubahan yang terjadi di dalam retina mirip dengan perubahan yang terjadi di dalam pembuluh darah lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal.
Untuk memeriksa retina, digunakan suatu oftalmoskop. Dengan menentukan derajat kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi.
Perubahan di dalam jantung, terutama pembesaran jantung, bisa ditemukan pada elektrokardiografi (EKG) dan foto rontgen dada.
Pada stadium awal, perubahan tersebut bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan dengan gelombang ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung).
Bunyi jantung yang abnormal (disebut bunyi jantung keempat), bisa didengar melalui stetoskop dan merupakan perubahan jantung paling awal yang terjadi akibat tekanan darah tinggi.
Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal bisa diketahui terutama melalui pemeriksaan air kemih.
Adanya sel darah dan albumin (sejenis protein) dalam air kemih bisa merupakan petunjuk terjadinya kerusakan ginjal.
Pemeriksaan untuk menentukan penyebab dari hipertensi terutama dilakukan pada penderita usia muda.
Pemeriksaan ini bisa berupa rontgen dan radioisotop ginjal, rontgen dada serta pemeriksaan darah dan air kemih untuk hormon tertentu.
Untuk menemukan adanya kelainan ginjal, ditanyakan mengenai riwayat kelainan ginjal sebelumnya.
Sebuah stetoskop ditempelkan diatas perut untuk mendengarkan adanya bruit (suara yang terjadi karena darah mengalir melalui arteri yang menuju ke ginjal, yang mengalami penyempitan).
Dilakukan analisa air kemih dan rontgen atau USG ginjal.
Jika penyebabnya adalah feokromositoma, maka di dalam air kemih bisa ditemukan adanya bahan-bahan hasil penguraian hormon epinefrin dan norepinefrin.
Biasanya hormon tersebut juga menyebabkan gejala sakit kepala, kecemasan, palpitasi (jantung berdebar-debar), keringat yang berlebihan, tremor (gemetar) dan pucat.
Penyebab lainnya bisa ditemukan melalui pemeriksaan rutin tertentu.
Misalnya mengukur kadar kalium dalam darah bisa membantu menemukan adanya hiperaldosteronisme dan mengukur tekanan darah pada kedua lengan dan tungkai bisa membantu menemukan adanya koartasio aorta.
PENGOBATAN
Hipertensi esensial tidak dapat diobati tetapi dapat diberikan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Langkah awal biasanya adalah merubah pola hidup penderita:
1. Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat badan dianjurkan untuk menurunkan berat badannya sampai batas ideal.
2. Merubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan atau kadar kolesterol darah tinggi.
Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3 gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup) dan mengurangi alkohol.
3. Olah raga aerobik yang tidak terlalu berat.
Penderita hipertensi esensial tidak perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali.
4. Berhenti merokok.
PEMBERIAN OBAT-OBATAN
1. Diuretik thiazide biasanya merupakan obat pertama yang diberikan untuk mengobati hipertensi.
Diuretik membantu ginjal membuang garam dan air, yang akan mengurangi volume cairan di seluruh tubuh sehingga menurunkan tekanan darah.
Diuretik juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah.
Diuretik menyebabkan hilangnya kalium melalui air kemih, sehingga kadang diberikan tambahan kalium atau obat penahan kalium.
Diuretik sangat efektif pada:
- orang kulit hitam
- lanjut usia
- kegemukan
- penderita gagal jantung atau penyakit ginjal menahun
2. Penghambat adrenergik merupakan sekelompok obat yang terdiri dari alfa-blocker, beta-blocker dan alfa-beta-blocker labetalol, yang menghambat efek sistem saraf simpatis.
Sistem saraf simpatis adalah sistem saraf yang dengan segera akan memberikan respon terhadap stres, dengan cara meningkatkan tekanan darah.
Yang paling sering digunakan adalah beta-blocker, yang efektif diberikan kepada:
- penderita usia muda
- penderita yang pernah mengalami serangan jantung
- penderita dengan denyut jantung yang cepat
- angina pektoris (nyeri dada)
- sakit kepala migren.
3. Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-inhibitor) menyebabkan penurunan tekanan darah dengan cara melebarkan arteri.
Obat ini efektif diberikan kepada:
- orang kulit putih
- usia muda
- penderita gagal jantung
- penderita dengan protein dalam air kemihnya yang disebabkan oleh penyakit ginjal menahun atau penyakit ginjal diabetik
- pria yang menderita impotensi sebagai efek samping dari obat yang lain.
4. Angiotensin-II-bloker menyebabkan penurunan tekanan darah dengan suatu mekanisme yang mirip dengan ACE-inhibitor.
5. Antagonis kalsium menyebabkan melebarnya pembuluh darah dengan mekanisme yang benar-benar berbeda.
Sangat efektif diberikan kepada:
- orang kulit hitam
- lanjut usia
- penderita angina pektoris (nyeri dada)
- denyut jantung yang cepat
- sakit kepala migren.
6. Vasodilator langsung menyebabkan melebarnya pembuluh darah.
Obat dari golongan ini hampir selalu digunakan sebagai tambahan terhadap obat anti-hipertensi lainnya.
7. Kedaruratan hipertensi (misalnya hipertensi maligna) memerlukan obat yang menurunkan tekanan darah tinggi dengan segera.
Beberapa obat bisa menurunkan tekanan darah dengan cepat dan sebagian besar diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah):
- diazoxide
- nitroprusside
- nitroglycerin
- labetalol.
Nifedipine merupakan kalsium antagonis dengan kerja yang sangat cepat dan bisa diberikan per-oral (ditelan), tetapi obat ini bisa menyebabkan hipotensi, sehingga pemberiannya harus diawasi secara ketat.
8. PENGELOLAAN HIPERTENSI SEKUNDER
Pengobatan hipertensi sekunder tergantung kepada penyebabnya.
Mengatasi penyakit ginjal kadang dapat mengembalikan tekanan darah ke normal atau paling tidak menurunkan tekanan darah.
Penyempitan arteri bisa diatasi dengan memasukkan selang yang pada ujungnya terpasang balon dan mengembangkan balon tersebut.
Atau bisa dilakukan pembedahan untuk membuat jalan pintas (operasi bypass).
Tumor yang menyebabkan hipertensi (misalnya feokromositoma) biasanya diangkat melalui pembedahan.
PENCEGAHAN
Perubahan gaya hidup bisa membantu mengendalikan tekanan darah tinggi.
BUAH DAN SAYURAN YANG DIANJURKAN:
1) APEL
2) ASPARAGUS
3) BELIMBING
4) BELIMBING WULUH
5) BUNCIS
6) KAPRI MANIS
7) KESEMEK
8) MENTIMUN
9) SELADA
10) SELEDRI
11) WORTEL
Wednesday, October 17, 2007
TOMAT
Tomat untuk hidup sehat:
Siapa yang tak kenal buah tomat? Buah yang dijuluki si apel cinta - love apple - karena dianggap bisa membangkitkan gairah cinta ini memang enak sekali diolah sebagai jus karena rasanya yang khas dan segar. Bangsa Italia juga gemar menggunakan buah tomat ini sebagai bahan saus yang tak pernah absen dalam berbagai hidangannya, sebut saja pizza, spaghetti, sup tomat dan berbagai hidangan pasta italia yang selalu menghadirkan tomat sebagai sausnya. Dalam dunia kecantikan, tomat juga dikenal sebagai bahan pembuat masker wajah yang handal dan telah teruji dalam merawat wajah dengan pori-pori besar dan berminyak.
LIKOPEN PALING BERJASA
Menikmati tomat, selain enak, ternyata juga sangat menyehatkan. Siapa sangka jika tanaman dengan nama latin Solanum lycopersicum ini pada awalnya diduga merupakan buah beracun karena daya tumbuhnya yang luar biasa, namun ternyata memiliki kandungan senyawa karotenoid dengan daya antioksidan tertinggi, yaitu LIKOPEN. Seperti sayuran dan buah-buahan lain yang berwarna kuning sampai merah, tomat memiliki senyawa karotenoid yang memiliki sifat antioksidan yang mampu melawan radikal bebas akibat polusi dan radiasi sinar UV. Yang istimewa adalah bahwa Likopen hampir hanya ditemukan dalam buah ini. Likopen meliputi sekitar 50% senyawa karotenoid yang terdapat dalam sebutir tomat.
Dalam tubuh, Likopen banyak ditemukan di testis, kelenjar suprarenal dan prostate. Walaupun arti kehadiran Likopen di bagian-bagian tubuh tersebut belum diketahui, namun dicurigai bahwa apabila jumlahnya dalam tubuh berkurang, maka Likopen dapat menjadi akar timbulnya masalah patologi, seperti tumor. Selain itu, telah dipelajari adanya hubungan timbal balik antara kadar Likopen tubuh dengan tumor di daerah prostat, lambung dan juga pankreas, karenanya disarankan pengujian kadar Likopen dalam darah untuk mengidentifikasi adanya tumor, di mana pada penderita tumor, kadar ini sangat rendah.
Jumlah Likopen dalam plasma dan kulit pun dapat dibandingkan dengan jumlah beta-karoten. Jika kulit berada dalam kondisi stress akibat radiasi sinar UV, jumlah Likopen yang hilang lebih besar dari jumlah beta-karoten. Kenyataan ini menyimpulkan bahwa Likopen berfungsi sebagai zat antioksidan, dan bekerja lebih kuat daripada beta-karoten.
Bukan cuma Likopen, tomat pun kaya dengan nutrisi-nutrisi penting lainnya. Satu gelas jus tomat bisa mengandung energi 20 kalori; protein 1 g; lemak 0,3 g; karbohidrat 4,2 g; kalsium 8 mg; fosfor 29 mg; zat besi 0,59 mg; natrium 10 mg; kalium 254 mg; vitamin A 1,394 IU; biotin 2 mg; asam folat 11,5 mcg; vitamin C 21,6 mg dan magnesium 14 mg. TOMAT YANG KAYA MANFAAT Pada awal Nopember 1934, Dr. Bennet-lah orang Amerika pertama yang menyatakan buah ini dapat mengobati diare, serangan empedu, gangguan pencernaan, dapat mencegah kolera, serta memulihkan fungsi liver. Pernyataan ini diperkuat oleh Dr. Yumi Tohuoka (1953) dalam laporan The Tohoku Journal of Experimental Medicine, bahwa tomat secara klinis efektif dalam menyeimbangkan gangguan liver.
Berkat kandungan Likopen, tomat menjadi buah yang semakin kaya akan manfaat. Tomat terutama efisien untuk kanker prostate. Suatu penelitian yang dilakukan di Harvard University terhadap 48.000 pria diperoleh kesimpulan bahwa mereka yang makan produk olahan dari tomat sebanyak 10 kali seminggu, memiliki resiko terkena kanker prostate lebih rendah 35% daripada pria yang makan tomat kurang dari 1½ seminggu. Selain kanker prostate, tomat juga mampu menurunkan resiko serangan jantung, dan juga kanker payudara dan pankreas. Likopen dalam tomat juga mampu mengurangi resiko terjadinya bercak-bercak kulit karena usia (macular degeneration). Sebagai antioksidan berdaya kerja tinggi, Likopen sangat efektif melawan radikal bebas, sehingga kesehatan fisik tetap terjaga dan juga membuat tetap awet muda.
Kandungan asam p-kumarat dan asam klorogenat di dalam tomat secara langsung mampu melemahkan zat nitrosamine, yaitu salah satu zat penyebab kanker yang mungkin terdapat dalam makanan. Kandungan asam lainnya yaitu asam malat dan asam sitrat dapat menjaga kebersihan saluran empedu, sehingga dapat menghindari terjadinya batu empedu. Kedua jenis asam ini juga mampu membersihkan penyempitan pembuluh darah ke penis yang diakibatkan oleh penumpukan lemak dan gula.
Tomat juga mengandung zat tomatin yang bersifat antiinflamasi (antiradang) sehingga dapat menyembuhkan radang pda jerawat, luka, borok, wasir, usus buntu hingga radang saluran pencernaan (bronchitis).
Sebuah penelitian yang dilakukan Rowett Research Institute di Aberdeen, Skotlandia menemukan khasiat biji tomat bagi kesehatan. Seperti yang dikutip majalah kesehatan Prevention, Asim K Dutta-Roy, PhD, sang peneliti menemukan, cairan licin atau jelly berwarna kuning yang terdapat di sekitar biji tomat, mengandung senyawa atau bahan campuran yang manjur untuk melawan stroke dan penyakit jantung.
Penelitian juga mendapatkan bahwa jika meminum juice tomat tanpa membuang bijinya, maka sekitar risiko terjadinya penggumpalan darah yang dapat menyebabkan serangan jantung berkurang hingga 72%. CARA SEHAT MENGOLAH TOMAT Tomat dapat dinikmati dengan cara dimakan langsung, dibuat jus ataupun dengan diolah menjadi sup dan saus. Dalam bentuk segar, baik dimakan langsung ataupun dibuat jus, tomat memberi manfaat tinggi beta-karoten, vitamin C dan mineral kalium. Dalam bentuk dimasak, Likopen akan lebih mudah keluar dari sel-sel buah dan lebih mudah larut, sehingga cara ini lebih disarankan jika ingin memanfaatkan kandungan Likopen-nya. Kami punya cara praktis menikmati tomat 'matang' tanpa harus repot-repot mengolahnya menjadi sup atau saus yang menjadi resep andalan dari orang tua. Pilih tomat yang segar, merah namun tidak benyek (terlalu matang), potong-potong sesuai selera dan tempatkan ke sebuah gelas besar, taburi gula pasir atau madu secukupnya, lalu siram dengan air mendidih, tutup dan biarkan sampai dingin. Untuk lebih menikmatinya, setelah dingin bisa ditambahkan potongan es. Rasanya benar-benar nikmat dan segar. Tidak percaya? Coba saja!
Siapa yang tak kenal buah tomat? Buah yang dijuluki si apel cinta - love apple - karena dianggap bisa membangkitkan gairah cinta ini memang enak sekali diolah sebagai jus karena rasanya yang khas dan segar. Bangsa Italia juga gemar menggunakan buah tomat ini sebagai bahan saus yang tak pernah absen dalam berbagai hidangannya, sebut saja pizza, spaghetti, sup tomat dan berbagai hidangan pasta italia yang selalu menghadirkan tomat sebagai sausnya. Dalam dunia kecantikan, tomat juga dikenal sebagai bahan pembuat masker wajah yang handal dan telah teruji dalam merawat wajah dengan pori-pori besar dan berminyak.
LIKOPEN PALING BERJASA
Menikmati tomat, selain enak, ternyata juga sangat menyehatkan. Siapa sangka jika tanaman dengan nama latin Solanum lycopersicum ini pada awalnya diduga merupakan buah beracun karena daya tumbuhnya yang luar biasa, namun ternyata memiliki kandungan senyawa karotenoid dengan daya antioksidan tertinggi, yaitu LIKOPEN. Seperti sayuran dan buah-buahan lain yang berwarna kuning sampai merah, tomat memiliki senyawa karotenoid yang memiliki sifat antioksidan yang mampu melawan radikal bebas akibat polusi dan radiasi sinar UV. Yang istimewa adalah bahwa Likopen hampir hanya ditemukan dalam buah ini. Likopen meliputi sekitar 50% senyawa karotenoid yang terdapat dalam sebutir tomat.
Dalam tubuh, Likopen banyak ditemukan di testis, kelenjar suprarenal dan prostate. Walaupun arti kehadiran Likopen di bagian-bagian tubuh tersebut belum diketahui, namun dicurigai bahwa apabila jumlahnya dalam tubuh berkurang, maka Likopen dapat menjadi akar timbulnya masalah patologi, seperti tumor. Selain itu, telah dipelajari adanya hubungan timbal balik antara kadar Likopen tubuh dengan tumor di daerah prostat, lambung dan juga pankreas, karenanya disarankan pengujian kadar Likopen dalam darah untuk mengidentifikasi adanya tumor, di mana pada penderita tumor, kadar ini sangat rendah.
Jumlah Likopen dalam plasma dan kulit pun dapat dibandingkan dengan jumlah beta-karoten. Jika kulit berada dalam kondisi stress akibat radiasi sinar UV, jumlah Likopen yang hilang lebih besar dari jumlah beta-karoten. Kenyataan ini menyimpulkan bahwa Likopen berfungsi sebagai zat antioksidan, dan bekerja lebih kuat daripada beta-karoten.
Bukan cuma Likopen, tomat pun kaya dengan nutrisi-nutrisi penting lainnya. Satu gelas jus tomat bisa mengandung energi 20 kalori; protein 1 g; lemak 0,3 g; karbohidrat 4,2 g; kalsium 8 mg; fosfor 29 mg; zat besi 0,59 mg; natrium 10 mg; kalium 254 mg; vitamin A 1,394 IU; biotin 2 mg; asam folat 11,5 mcg; vitamin C 21,6 mg dan magnesium 14 mg. TOMAT YANG KAYA MANFAAT Pada awal Nopember 1934, Dr. Bennet-lah orang Amerika pertama yang menyatakan buah ini dapat mengobati diare, serangan empedu, gangguan pencernaan, dapat mencegah kolera, serta memulihkan fungsi liver. Pernyataan ini diperkuat oleh Dr. Yumi Tohuoka (1953) dalam laporan The Tohoku Journal of Experimental Medicine, bahwa tomat secara klinis efektif dalam menyeimbangkan gangguan liver.
Berkat kandungan Likopen, tomat menjadi buah yang semakin kaya akan manfaat. Tomat terutama efisien untuk kanker prostate. Suatu penelitian yang dilakukan di Harvard University terhadap 48.000 pria diperoleh kesimpulan bahwa mereka yang makan produk olahan dari tomat sebanyak 10 kali seminggu, memiliki resiko terkena kanker prostate lebih rendah 35% daripada pria yang makan tomat kurang dari 1½ seminggu. Selain kanker prostate, tomat juga mampu menurunkan resiko serangan jantung, dan juga kanker payudara dan pankreas. Likopen dalam tomat juga mampu mengurangi resiko terjadinya bercak-bercak kulit karena usia (macular degeneration). Sebagai antioksidan berdaya kerja tinggi, Likopen sangat efektif melawan radikal bebas, sehingga kesehatan fisik tetap terjaga dan juga membuat tetap awet muda.
Kandungan asam p-kumarat dan asam klorogenat di dalam tomat secara langsung mampu melemahkan zat nitrosamine, yaitu salah satu zat penyebab kanker yang mungkin terdapat dalam makanan. Kandungan asam lainnya yaitu asam malat dan asam sitrat dapat menjaga kebersihan saluran empedu, sehingga dapat menghindari terjadinya batu empedu. Kedua jenis asam ini juga mampu membersihkan penyempitan pembuluh darah ke penis yang diakibatkan oleh penumpukan lemak dan gula.
Tomat juga mengandung zat tomatin yang bersifat antiinflamasi (antiradang) sehingga dapat menyembuhkan radang pda jerawat, luka, borok, wasir, usus buntu hingga radang saluran pencernaan (bronchitis).
Sebuah penelitian yang dilakukan Rowett Research Institute di Aberdeen, Skotlandia menemukan khasiat biji tomat bagi kesehatan. Seperti yang dikutip majalah kesehatan Prevention, Asim K Dutta-Roy, PhD, sang peneliti menemukan, cairan licin atau jelly berwarna kuning yang terdapat di sekitar biji tomat, mengandung senyawa atau bahan campuran yang manjur untuk melawan stroke dan penyakit jantung.
Penelitian juga mendapatkan bahwa jika meminum juice tomat tanpa membuang bijinya, maka sekitar risiko terjadinya penggumpalan darah yang dapat menyebabkan serangan jantung berkurang hingga 72%. CARA SEHAT MENGOLAH TOMAT Tomat dapat dinikmati dengan cara dimakan langsung, dibuat jus ataupun dengan diolah menjadi sup dan saus. Dalam bentuk segar, baik dimakan langsung ataupun dibuat jus, tomat memberi manfaat tinggi beta-karoten, vitamin C dan mineral kalium. Dalam bentuk dimasak, Likopen akan lebih mudah keluar dari sel-sel buah dan lebih mudah larut, sehingga cara ini lebih disarankan jika ingin memanfaatkan kandungan Likopen-nya. Kami punya cara praktis menikmati tomat 'matang' tanpa harus repot-repot mengolahnya menjadi sup atau saus yang menjadi resep andalan dari orang tua. Pilih tomat yang segar, merah namun tidak benyek (terlalu matang), potong-potong sesuai selera dan tempatkan ke sebuah gelas besar, taburi gula pasir atau madu secukupnya, lalu siram dengan air mendidih, tutup dan biarkan sampai dingin. Untuk lebih menikmatinya, setelah dingin bisa ditambahkan potongan es. Rasanya benar-benar nikmat dan segar. Tidak percaya? Coba saja!
Tuesday, October 16, 2007
ARTRITIS REMATOID
Artritis Rematoid
DEFINISI
Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. Artritis rematoid juga bisa menyebabkan sejumlah gejala di seluruh tubuh. Penyakit ini terjadi pada sekitar 1% dari jumlah penduduk, dan wanita 2-3 kali lebih sering dibandingkan pria. Biasanya pertama kali muncul pada usia 25-50 tahun, tetapi bisa terjadi pada usia berapapun.
PENYEBAB
Penyebab yang pasti tidak diketahui, tetapi berbagai faktor (termasuk kecenderungan genetik) bisa mempengaruhi reaksi autoimun.
GEJALA
Artritis rematoid bisa muncul secara tiba-tiba, dimana pada saat yang sama banyak sendi yang mengalami peradangan. Biasanya peradangan bersifat simetris, jika suatu sendi pada sisi kiri tubuh terkena, maka sendi yang sama di sisi kanan tubuh juga akan meradang. Yang pertama kali meradang adalah sendi-sendi kecil di jari tangan, jari kaki, tangan, kaki, pergelangan tangan, sikut dan pergelangan kaki. Sendi yang meradang biasanya menimbulkan nyeri dan menjadi kaku, terutama pada saat bangun tidur atau setelah lama tidak melakukan aktivitas. Beberapa penderita merasa lelah dan lemah, terutama menjelang sore hari. Sendi yang terkena akan membesar dan segera terjadi kelainan bentuk. Sendi bisa terhenti dalam satu posisi (kontraktur) sehingga tidak dapat diregangkan atau dibuka sepenuhnya. Jari-jari pada kedua tangan cenderung membengkok ke arah kelingking, sehingga tendon pada jari-jari tangan bergeser dari tempatnya. Pembengkakan pergelangan tangan bisa mengakibatkan terjadinya sindroma terowongan karpal. Di belakang lutut yang terkena, bisa terbentuk kista, yang apabila pecah bisa menyebabkan nyeri dan pembengkakan pada tungkai sebelah bawah. Sekitar 30-40% penderita memiliki benjolan keras (nodul) tepat dibawah kulit, yang biasanya terletak di daerah sekitar timbulnya penyakit ini. Bisa terjadi demam ringan dan kadang terjadi peradangan pembuluh darah (vaskulitis) yang menyebabkan kerusakan saraf atau luka (ulkus) di tungkai. Peradangan pada selaput di sekitar paru-paru (pleuritis) atau pada kantong di sekitar jantung (perikarditis) atau peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru bisa menyebabkan nyeri dada, gangguan pernafasan dan kelainan fungsi jantung. Penderita lainnya menunjukkan pembengkakan kelenjar getah bening, sindroma Sjögren atau peradangan mata. Penyakit Still merupakan variasi dari artritis rematoid dimana yang pertama muncul adalah deman tinggi dan gejala umum lainnya. Sindroma Felty terjadi jika pada penderita artritis rematoid ditemukan pembesaran limpa dan penurunan jumlah sel darah putih.
DIAGNOSA
Membedakan artritis rematoid dari berbagai keadaan lainnya yang bisa menyebabkan artritis, tidaklah mudah. Keadaan-keadaaan yang menyerupai artritis rematoid adalah: - Demam rematik - Artritis gonokokal - Penyakit Lyme - Sindroma Reiter - Artritis psoriatik - Spondilitis ankilosing - Gout - Pseudogout - Osteoartritis. Pola gejalanya sangat khas, tetapi untuk memperkuat diagnosis perlu dilakukan:
Pemeriksaan darah - 9 dari 10 penderita memiliki laju endap eritrosit yang meningkat - sebagian besar menderita anemia - kadang jumlah sel darah putih berkurang - 7 dari 10 penderita memiliki antibodi yang disebut faktor rematoid; biasanya semakin tinggi kadar faktor rematoid dalam darah, maka semakin berat penyakitnya dan semakin jelek prognosisnya. Kadar antibodi ini bisa menurun jika peradangan sendi berkurang dan akan meningkat jika terjadi serangan.
Pemeriksaan cairan sendi.
Biopsi nodul.
Rontgen, bisa menunjukkan adanya perubahan khas pada sendi.
Mengenali artritis rematoid. Seseorang yang memiliki 4 dari 5 gejala berikut, kemungkinan menderita artritis rematoid:
Kekakuan di pagi hari yang berlangsung lebih dari 1 jam (selama minimal 6 minggu)
Peradangan (artritis) pada 3 atau lebih sendi (selama minimal 6 minggu)
Artritis pada persendian tangan, pergelangan tangan atau jari tanan (selama minimal 6 minggu)
Faktor rematoid di dalam darah
Perubahan yang khas pada foto rontgen.
PENGOBATAN
Prinsip dasar dari pengobatan artrtitis rematoid adalah mengistirahatkan sendi yang terkena, karena pemakaian sendi yang terkena akan memperburuk peradangan. Mengistirahatkan sendi secara rutin seringkali membantu mengurangi nyeri. Pembidaian bisa digunakan untuk imobilisasi dan mengistirahatkan satu atau beberapa sendi, tetapi untuk mencegah kekakuan, perlu dilakukan beberapa pergerakan sendi yang sistematis. Obat-obatan utama yang digunakan untuk mengobati artritis rematoid adalah obat anti peradangan non-steroid, obat slow-acting, kortikosteroid dan obat imunosupresif. Biasanya, semakin kuat obatnya, maka semakin hebat potensi efek sampingnya, sehingga diperlukan pemantaun ketat. Obat anti peradangan non-steroid. Yang paling banyak digunakan adalah aspirin dan ibuprofen. Obat ini mengurangi pembengkakan pada sendi yang terkena dan meringankan rasa nyeri. Aspirin merupakan obat tradisional untuk artritis rematoid; obat yang lebih baru memiliki lebih sedikit efek samping tetapi harganya lebih mahal. Dosis awal adalah 4 kali 2 tablet (325 mgram)/hari. Telinga berdenging merupakan efek samping yang menunjukkan bahwa dosisnya terlalu tinggi. Gangguan pencernaan dan ulkus peptikum, yang merupakan efek samping dari dosis yang terlalu tinggi, bisa dicegah dengan memakan makanan atau antasid atau obat lainnya pada saat meminum aspirin. Misoprostol bisa membantu mencegah erosi lapisan lambung dan pembentukan ulkus gastrikum, tetapi obat ini juga menyebabkan diare dan tidak mencegah terjadinya mual atau nyeri perut karena aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya. Obat slow-acting. Obat slow-acting kadang merubah perjalanan penyakit, meskipun perbaikan memerlukan waktu beberapa bulan dan efek sampingnya berbahaya. Pemakaiannya harus dipantau secara ketat. Obat ini biasanya ditambahkan jika obat anti peradangan non-steroid terbukti tidak efektif setelah diberikan selama 2-3 bulan atau diberikan segera jika penyakitnya berkembang dengan cepat. Yang sekarang ini digunakan adalah senyawa emas, penisilamin, hydroxycloroquinine dan sulfasalazine.
Senyawa emas. Senyawa emas berfungsi memperlambat terjadinya kelainan bentuk tulang. Biasanya diberikan sebagai suntikan mingguan. Suntikan mingguan diberikan sampai tercapai dosis total 1 gram atau sampai timbulnya efek samping atau terjadinya perbaikan yang berarti. Jika obat ini efektif, dosisnya dikurangi secara bertahap. Kadang perbaikan dicapai setelah diberikannya dosis pemeliharaan selama beberapa tahun. Senyawa emas bisa menimbulkan efek samping pada beberapa organ, karena itu obat ini tidak diberikan kepada penderita penyakit hati atau ginjal yang berat atau penyakit darah tertentu. Sebelum pengobatan dimulai dan setiap seminggu sekali selama pengobatan berlangsung, dilakukan pemeriksaan darah dan air kemih. Efek sampingnya berupa ruam kulit, gatal dan berkurangnya sejumlah sel darah. Jika terjadi efek samping yang serius, maka pemakaiannya segera dihentikan.
Penisilamin. Efeknya menyerupai senyawa emas dan bisa digunakan jika senyawa emas tidak efektif atau menyebabkan efek samping yang tidak dapat ditoleransi. Dosisnya secara bertahap dinaikkan sampai terjadinya perbaikan. Efek sampingnya adalah penekanan terhadap pembentukan sel darah di dalam sumsum tulang, kelainan ginjal, penyakit otot, ruam kulit dan rasa tidak enak di mulut. Jika terjadi efek samping tersebut, maka pemakaian obat harus dihentikan. Obat ini juga bisa menyebabkan miastenia gravis, sindroma Goodpasture dan sindroma yang menyerupai lupus. Selama pengobatan berlangsung, dilakukan pemeriksaan darah dan air kemih setiap 2-4 minggu sekali.
Hydroxycloroquine. Digunakan untuk mengobati artritis rematoid yang tidak terlalu berat. Efek sampingnya biasanya ringan, yaitu berupa ruam kulit, sakit otot dan kelainan mata. Tetapi beberapa kelainan mata bisa menetap, sehingga penderita yang mendapatkan obat ini harus memeriksakan matanya sebelum dilakukan pengobatan dan setiap 6 bulan selama pengobatan berlangsung. Jika setelah 6 bulan tidak menunjukkan perbaikan, maka pemberian obat ini dihentikan. Jika terjadi perbaikan, pemakaian obat ini bisa dilanjutkan sesuai dengan kebutuhan.
Sulfasalazine. Obat ini semakin banyak digunakan untuk mengobati artritis rematoid. Dosisnya dinaikkan secara bertahap dan perbaikan biasanya terjadi dalam 3 bulan. Sulfasalazine bisa menyebabkan gangguan pencernaan, kelainan hati, kelainan sel darah dan ruam kulit.
Kortikosteroid. Kortikosteroid (misalnya prednison) merupakan obat paling efektif untuk mengurangi peradangan di bagian tubuh manapun. Kortikosteroid efektif pada pemakaian jangka pendek dan cenderung kurang efektif jika digunakan dalam jangka panjang, padahal artritis rematoid adalah penyakit yang biasanya aktif selama bertahun-tahun. Kortikosteroid biasanya tidak memperlambat perjalanan penyakit ini dan pemakaian jangka panjang menyebabkan berbagai efek samping, yang melibatkan hampir setiap organ. Efek samping yang sering terjadi adalah penipisan kulit, memar, osteoporosis, tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang tinggi dan katarak. Karena itu obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi kekambuhan yang mengenai beberapa sendi atau jika obat lainnya tidak efektif. Kortikosteroid juga digunakan untuk mengobati peradangan diluar sendi, seperti peradangan selaput paru-paru (pleuritis) atau peradangan kantong jantung (perikarditis). Untuk menghindari resiko terjadinya efek samping, maka hampir selalu digunakan dosis efektif terendah. Obat ini bisa disuntikkan langsung ke dalam sendi, tetapi bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang, terutama jika sendi yang terkena digunakan secara berlebihan sehingga mempercepat terjadinya kerusakan sendi. Obat imunosupresif. Obat imunosupresif (contohnya metotreksat, azatioprin dan cyclophosphamide) efektif untuk mengatasi artritis rematoid yang berat. Obat ini menekan peradangan sehingga pemakaian kortikosteroid bisa dihindari atau diberikan kortikosteroid dosis rendah. Efek sampingnya berupa penyakit hati, peradangan paru-paru, mudah terkena infeksi, penekanan terhadap pembentukan sel darah di sumsum tulang dan perdarahan kandung kemih (karena siklofosfamid). Selain itu azatioprine dan siklofosfamid bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker. Metotreksat diberikan per-oral (ditelan) 1 kali/minggu, digunakan untuk mengobati artritis rematoid stadium awal. Siklosporin bisa digunakan untuk mengobati artritis yang berat jika obat lainnya tidak efektif. Terapi lainnya. Bersamaan dengan pemberian obat untuk mengurangi peradangan sendi, bisa dilakukan latihan-latihan, terapi fisik, pemanasan pada sendi yang meradang dan kadang pembedahan. Sendi yang meradang harus dilatih secara halus sehingga tidak terjadi kekakuan. Setelah peradangan mereda, bisa dilakukan latihan aktif yang rutin, tetapi jangan sampai terlalu lelah. Biasanya latihan akan lebih mudah jika dilakukan di dalam air. Untuk mengobati persendian yang kaku, dilakukan latihan yang intensif dan kadang digunakan pembidaian untuk meregangkan sendi secara perlahan. Jika pemberian obat tidak membantu, mungkin perlu dilakukan pembedahan. Untuk mengembalikan pergerakan dan fungsinya, biasanya dilakukan pembedahan untuk mengganti sendi lutut atau sendi panggul dengan sendi buatan. Persendian juga bisa diangkat atau dilebur (terutama pada kaki), supaya kaki tidak terlalu nyeri ketika digunakan untuk berjalan. Ibu jari bisa dilebur sehingga penderita bisa menggenggam dan tulang belakang di ujung leher yang tidak stabil bisa dilebur untuk mencegah penekanan terhadap urat saraf tulang belakang. Penderita yang menjadi cacat karena artritis rematoid bisa menggunakan beberapa alat bantu untuk menyelesaikan tugas sehari-harinya. Contohnya adalah sepatu ortopedik khusus atau sepatu atletik khusus.
DEFINISI
Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. Artritis rematoid juga bisa menyebabkan sejumlah gejala di seluruh tubuh. Penyakit ini terjadi pada sekitar 1% dari jumlah penduduk, dan wanita 2-3 kali lebih sering dibandingkan pria. Biasanya pertama kali muncul pada usia 25-50 tahun, tetapi bisa terjadi pada usia berapapun.
PENYEBAB
Penyebab yang pasti tidak diketahui, tetapi berbagai faktor (termasuk kecenderungan genetik) bisa mempengaruhi reaksi autoimun.
GEJALA
Artritis rematoid bisa muncul secara tiba-tiba, dimana pada saat yang sama banyak sendi yang mengalami peradangan. Biasanya peradangan bersifat simetris, jika suatu sendi pada sisi kiri tubuh terkena, maka sendi yang sama di sisi kanan tubuh juga akan meradang. Yang pertama kali meradang adalah sendi-sendi kecil di jari tangan, jari kaki, tangan, kaki, pergelangan tangan, sikut dan pergelangan kaki. Sendi yang meradang biasanya menimbulkan nyeri dan menjadi kaku, terutama pada saat bangun tidur atau setelah lama tidak melakukan aktivitas. Beberapa penderita merasa lelah dan lemah, terutama menjelang sore hari. Sendi yang terkena akan membesar dan segera terjadi kelainan bentuk. Sendi bisa terhenti dalam satu posisi (kontraktur) sehingga tidak dapat diregangkan atau dibuka sepenuhnya. Jari-jari pada kedua tangan cenderung membengkok ke arah kelingking, sehingga tendon pada jari-jari tangan bergeser dari tempatnya. Pembengkakan pergelangan tangan bisa mengakibatkan terjadinya sindroma terowongan karpal. Di belakang lutut yang terkena, bisa terbentuk kista, yang apabila pecah bisa menyebabkan nyeri dan pembengkakan pada tungkai sebelah bawah. Sekitar 30-40% penderita memiliki benjolan keras (nodul) tepat dibawah kulit, yang biasanya terletak di daerah sekitar timbulnya penyakit ini. Bisa terjadi demam ringan dan kadang terjadi peradangan pembuluh darah (vaskulitis) yang menyebabkan kerusakan saraf atau luka (ulkus) di tungkai. Peradangan pada selaput di sekitar paru-paru (pleuritis) atau pada kantong di sekitar jantung (perikarditis) atau peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru bisa menyebabkan nyeri dada, gangguan pernafasan dan kelainan fungsi jantung. Penderita lainnya menunjukkan pembengkakan kelenjar getah bening, sindroma Sjögren atau peradangan mata. Penyakit Still merupakan variasi dari artritis rematoid dimana yang pertama muncul adalah deman tinggi dan gejala umum lainnya. Sindroma Felty terjadi jika pada penderita artritis rematoid ditemukan pembesaran limpa dan penurunan jumlah sel darah putih.
DIAGNOSA
Membedakan artritis rematoid dari berbagai keadaan lainnya yang bisa menyebabkan artritis, tidaklah mudah. Keadaan-keadaaan yang menyerupai artritis rematoid adalah: - Demam rematik - Artritis gonokokal - Penyakit Lyme - Sindroma Reiter - Artritis psoriatik - Spondilitis ankilosing - Gout - Pseudogout - Osteoartritis. Pola gejalanya sangat khas, tetapi untuk memperkuat diagnosis perlu dilakukan:
Pemeriksaan darah - 9 dari 10 penderita memiliki laju endap eritrosit yang meningkat - sebagian besar menderita anemia - kadang jumlah sel darah putih berkurang - 7 dari 10 penderita memiliki antibodi yang disebut faktor rematoid; biasanya semakin tinggi kadar faktor rematoid dalam darah, maka semakin berat penyakitnya dan semakin jelek prognosisnya. Kadar antibodi ini bisa menurun jika peradangan sendi berkurang dan akan meningkat jika terjadi serangan.
Pemeriksaan cairan sendi.
Biopsi nodul.
Rontgen, bisa menunjukkan adanya perubahan khas pada sendi.
Mengenali artritis rematoid. Seseorang yang memiliki 4 dari 5 gejala berikut, kemungkinan menderita artritis rematoid:
Kekakuan di pagi hari yang berlangsung lebih dari 1 jam (selama minimal 6 minggu)
Peradangan (artritis) pada 3 atau lebih sendi (selama minimal 6 minggu)
Artritis pada persendian tangan, pergelangan tangan atau jari tanan (selama minimal 6 minggu)
Faktor rematoid di dalam darah
Perubahan yang khas pada foto rontgen.
PENGOBATAN
Prinsip dasar dari pengobatan artrtitis rematoid adalah mengistirahatkan sendi yang terkena, karena pemakaian sendi yang terkena akan memperburuk peradangan. Mengistirahatkan sendi secara rutin seringkali membantu mengurangi nyeri. Pembidaian bisa digunakan untuk imobilisasi dan mengistirahatkan satu atau beberapa sendi, tetapi untuk mencegah kekakuan, perlu dilakukan beberapa pergerakan sendi yang sistematis. Obat-obatan utama yang digunakan untuk mengobati artritis rematoid adalah obat anti peradangan non-steroid, obat slow-acting, kortikosteroid dan obat imunosupresif. Biasanya, semakin kuat obatnya, maka semakin hebat potensi efek sampingnya, sehingga diperlukan pemantaun ketat. Obat anti peradangan non-steroid. Yang paling banyak digunakan adalah aspirin dan ibuprofen. Obat ini mengurangi pembengkakan pada sendi yang terkena dan meringankan rasa nyeri. Aspirin merupakan obat tradisional untuk artritis rematoid; obat yang lebih baru memiliki lebih sedikit efek samping tetapi harganya lebih mahal. Dosis awal adalah 4 kali 2 tablet (325 mgram)/hari. Telinga berdenging merupakan efek samping yang menunjukkan bahwa dosisnya terlalu tinggi. Gangguan pencernaan dan ulkus peptikum, yang merupakan efek samping dari dosis yang terlalu tinggi, bisa dicegah dengan memakan makanan atau antasid atau obat lainnya pada saat meminum aspirin. Misoprostol bisa membantu mencegah erosi lapisan lambung dan pembentukan ulkus gastrikum, tetapi obat ini juga menyebabkan diare dan tidak mencegah terjadinya mual atau nyeri perut karena aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya. Obat slow-acting. Obat slow-acting kadang merubah perjalanan penyakit, meskipun perbaikan memerlukan waktu beberapa bulan dan efek sampingnya berbahaya. Pemakaiannya harus dipantau secara ketat. Obat ini biasanya ditambahkan jika obat anti peradangan non-steroid terbukti tidak efektif setelah diberikan selama 2-3 bulan atau diberikan segera jika penyakitnya berkembang dengan cepat. Yang sekarang ini digunakan adalah senyawa emas, penisilamin, hydroxycloroquinine dan sulfasalazine.
Senyawa emas. Senyawa emas berfungsi memperlambat terjadinya kelainan bentuk tulang. Biasanya diberikan sebagai suntikan mingguan. Suntikan mingguan diberikan sampai tercapai dosis total 1 gram atau sampai timbulnya efek samping atau terjadinya perbaikan yang berarti. Jika obat ini efektif, dosisnya dikurangi secara bertahap. Kadang perbaikan dicapai setelah diberikannya dosis pemeliharaan selama beberapa tahun. Senyawa emas bisa menimbulkan efek samping pada beberapa organ, karena itu obat ini tidak diberikan kepada penderita penyakit hati atau ginjal yang berat atau penyakit darah tertentu. Sebelum pengobatan dimulai dan setiap seminggu sekali selama pengobatan berlangsung, dilakukan pemeriksaan darah dan air kemih. Efek sampingnya berupa ruam kulit, gatal dan berkurangnya sejumlah sel darah. Jika terjadi efek samping yang serius, maka pemakaiannya segera dihentikan.
Penisilamin. Efeknya menyerupai senyawa emas dan bisa digunakan jika senyawa emas tidak efektif atau menyebabkan efek samping yang tidak dapat ditoleransi. Dosisnya secara bertahap dinaikkan sampai terjadinya perbaikan. Efek sampingnya adalah penekanan terhadap pembentukan sel darah di dalam sumsum tulang, kelainan ginjal, penyakit otot, ruam kulit dan rasa tidak enak di mulut. Jika terjadi efek samping tersebut, maka pemakaian obat harus dihentikan. Obat ini juga bisa menyebabkan miastenia gravis, sindroma Goodpasture dan sindroma yang menyerupai lupus. Selama pengobatan berlangsung, dilakukan pemeriksaan darah dan air kemih setiap 2-4 minggu sekali.
Hydroxycloroquine. Digunakan untuk mengobati artritis rematoid yang tidak terlalu berat. Efek sampingnya biasanya ringan, yaitu berupa ruam kulit, sakit otot dan kelainan mata. Tetapi beberapa kelainan mata bisa menetap, sehingga penderita yang mendapatkan obat ini harus memeriksakan matanya sebelum dilakukan pengobatan dan setiap 6 bulan selama pengobatan berlangsung. Jika setelah 6 bulan tidak menunjukkan perbaikan, maka pemberian obat ini dihentikan. Jika terjadi perbaikan, pemakaian obat ini bisa dilanjutkan sesuai dengan kebutuhan.
Sulfasalazine. Obat ini semakin banyak digunakan untuk mengobati artritis rematoid. Dosisnya dinaikkan secara bertahap dan perbaikan biasanya terjadi dalam 3 bulan. Sulfasalazine bisa menyebabkan gangguan pencernaan, kelainan hati, kelainan sel darah dan ruam kulit.
Kortikosteroid. Kortikosteroid (misalnya prednison) merupakan obat paling efektif untuk mengurangi peradangan di bagian tubuh manapun. Kortikosteroid efektif pada pemakaian jangka pendek dan cenderung kurang efektif jika digunakan dalam jangka panjang, padahal artritis rematoid adalah penyakit yang biasanya aktif selama bertahun-tahun. Kortikosteroid biasanya tidak memperlambat perjalanan penyakit ini dan pemakaian jangka panjang menyebabkan berbagai efek samping, yang melibatkan hampir setiap organ. Efek samping yang sering terjadi adalah penipisan kulit, memar, osteoporosis, tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang tinggi dan katarak. Karena itu obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi kekambuhan yang mengenai beberapa sendi atau jika obat lainnya tidak efektif. Kortikosteroid juga digunakan untuk mengobati peradangan diluar sendi, seperti peradangan selaput paru-paru (pleuritis) atau peradangan kantong jantung (perikarditis). Untuk menghindari resiko terjadinya efek samping, maka hampir selalu digunakan dosis efektif terendah. Obat ini bisa disuntikkan langsung ke dalam sendi, tetapi bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang, terutama jika sendi yang terkena digunakan secara berlebihan sehingga mempercepat terjadinya kerusakan sendi. Obat imunosupresif. Obat imunosupresif (contohnya metotreksat, azatioprin dan cyclophosphamide) efektif untuk mengatasi artritis rematoid yang berat. Obat ini menekan peradangan sehingga pemakaian kortikosteroid bisa dihindari atau diberikan kortikosteroid dosis rendah. Efek sampingnya berupa penyakit hati, peradangan paru-paru, mudah terkena infeksi, penekanan terhadap pembentukan sel darah di sumsum tulang dan perdarahan kandung kemih (karena siklofosfamid). Selain itu azatioprine dan siklofosfamid bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker. Metotreksat diberikan per-oral (ditelan) 1 kali/minggu, digunakan untuk mengobati artritis rematoid stadium awal. Siklosporin bisa digunakan untuk mengobati artritis yang berat jika obat lainnya tidak efektif. Terapi lainnya. Bersamaan dengan pemberian obat untuk mengurangi peradangan sendi, bisa dilakukan latihan-latihan, terapi fisik, pemanasan pada sendi yang meradang dan kadang pembedahan. Sendi yang meradang harus dilatih secara halus sehingga tidak terjadi kekakuan. Setelah peradangan mereda, bisa dilakukan latihan aktif yang rutin, tetapi jangan sampai terlalu lelah. Biasanya latihan akan lebih mudah jika dilakukan di dalam air. Untuk mengobati persendian yang kaku, dilakukan latihan yang intensif dan kadang digunakan pembidaian untuk meregangkan sendi secara perlahan. Jika pemberian obat tidak membantu, mungkin perlu dilakukan pembedahan. Untuk mengembalikan pergerakan dan fungsinya, biasanya dilakukan pembedahan untuk mengganti sendi lutut atau sendi panggul dengan sendi buatan. Persendian juga bisa diangkat atau dilebur (terutama pada kaki), supaya kaki tidak terlalu nyeri ketika digunakan untuk berjalan. Ibu jari bisa dilebur sehingga penderita bisa menggenggam dan tulang belakang di ujung leher yang tidak stabil bisa dilebur untuk mencegah penekanan terhadap urat saraf tulang belakang. Penderita yang menjadi cacat karena artritis rematoid bisa menggunakan beberapa alat bantu untuk menyelesaikan tugas sehari-harinya. Contohnya adalah sepatu ortopedik khusus atau sepatu atletik khusus.
Sunday, October 14, 2007
BUDAYA ORGANISASI DALAM APLIKASI DI RSU BANYUMAS
BUDAYA ORGANISASI DALAM APLIKASI DI RSU BANYUMAS
Oleh : dr. Widayanto, Mkes
PENDAHULUAN
Suatu organisasi selalu mempunyai budaya, budaya tersebut terjadi karena adanya interaksi manusia, yang didasari oleh suatu paradigma ditopang oleh pilarpilar yang berupa keyakinan dasar dan nilainilai dasar.
Budaya organisasi terlihat dari artefak yang terdapat pada organisasi itu, artefakartefak dapat berupa bangunan gedung, pakaian seragam, perilaku dalam melayani, tata-ruang dan dan sebagainya yang tampak dan dapat dirasakan oleh panca indra.
RSU Banyumas sudah memiliki budaya kerja organisasi yang telah diaplikasikan sejak tahun 1996, ditanamkan secara bertahap dan dalam proses yang berlangsung terus menerus. Didalam aplikasi suatu budaya haruslah dipupuk dan dimengerti oleh setiap pihak yang terlibat dalam karya pelayanan, budaya organisasi selalu tumbuh dan berkembang bila tidak dipupuk akan layu dan mati.
Artefak dalam budaya organisasi pengaruhi oleh nilai-nilai dan keyakinan yang dimiliki. Di dalam organisasi rumah sakit budaya organisasi merupakan budaya multikultur, karena anggota rumahsakit terdiri dari beberapa profesi seperti dokter, perawat, tekniksian kesehatan, dan lain-lain. Setiap profesi mempunyai budaya profesi sendiri yang disebut dengan kode etik. Dokter mempunyai kode etik kedokteran; perawat memiliki kode etik keperawatan dan bidan memiliki kode etik kebidanan. Demikian pula setiap profesi yang ada di rumah sakit memiliki kode etik sendiri.
Budaya organisasi juga dipengaruhi oleh keyakinan, keyakinan yang ada termasuk dalam hal ini adalah agama yang dianut oleh anggota organisasi tersebut, seperti contoh adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha, sebagai agama yang diakui oleh negara juga berpengaruh dalam perilaku perorangan. Perilaku perorangan dari tiap individu di organisasi rumah sakit akan menjadi perilaku kelompok.
Perilaku perorangan juga dipengaruhi oleh tradisi budaya yang dimiliki oleh asal orang tersebut.
Mayoritas budaya anggota-anggota secara individu di organisasi akan mempengaruhi budaya organisasi. Sebagian besar karyawan RSU Banyumas beragama Islam dan suku bangsa Jawa (Banyumas) hal ini tentu mempengaruhi budaya organisasi RSU Banyumas yang multikultur campuran dari budaya profesi, keagamaan dan tradisi. Sehingga percampuran dari budaya anggota organisasi budaya RSU Banyumas menjadi bercirikan Profesi kesehatan, Islam dan Banyumasan.
Dalam perumusannya daijabarkan dalam budaya kerja yang di sinkat menjadi 5M(Mutu, Mudah, Murah, Mantap dan Marem), 5R (Rapi, Rajin, Resik, Ramah dan Rukun) , dan CUBIT (Cukup, Urgen, Baik, Irit dan Terawat).
Rumusan Budaya Kerja RSU Banyumas tertempel di dinding tiap-tiap ruang.
Mengaplikasikan Budaya kerja:
1. Budaya kerja diwujudkan dalam Manajemen dan Kepemimpinan
2. Budaya kerja diwujudkan dalam Pola Pikir
3. Budaya kerja diaplikasikan dalam kegiatan pelayanan
Manajemen dan kepemimpinan merupakan suatu kegiatan yang terstruktur dan jelas dalam suatu sistem, dimulai biasanya dari suatu kebijakan yang harus diambil.
Ketika membuat suatu kebijakan biasanya selalu ada pertimbangan, dasar yang diperhatikan. Pertimbangan yang muncul adalah dilandasi oleh keyakinan dan nilai yang dimiliki oleh orang yang mengambil kebijakan tersebut.
RSU Banyumas telah memiliki struktur yang jelas dalam Manajemen dan kepemimpinan yang gambar dalam budaya kerja sehari hari. Yang digambarkan dalam gambar piramid gunung es, yang muncul dipermukanan adalah perilaku pelayanan sebagai 5M, 5R, CUBIT. Sedangkan Keyakinan Dasar dan Nilai-nilai Dasar adalah tiang penyangga yang merupakan pola pikir dasar dalam membuat prosedur dan aturan yang dapat diberlakukan dalam aplikasi sehari hari.
Sedangkan paradigma yang telah tersusun diwujudkan dalam kebijakan yang dibuat berdasar asumsi.
Hal ini dapat dilihat dalam gambar disamping ini. Budaya yang dimiliki oleh RSU Banyumas merupakan suatu kesatuan dalam berilaku anggota organisasi RSU Banyumas yang dapat dilihat adalah artifak yang muncul atau ada disekitar RSU Banyumas.
Artifak yang sekarang muncul seperti disain bangunan, pakaian seragam, pengaturan pasien, tata ruang adalah budaya yang dirasakan oleh pelanggan, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal.
Semua yang ada dan dapat dirasakan oleh panca indra adalah artifak, artifak merupakan kegiatan yang tersusun dari pola pikir dari keyakinan dasar dan nilai-nilai dasar yang dimiliki.
5M, 5R dan CUBIT adalah artefak karena hal ini dapat dirasakan oleh panca indra kita, sedangkan Keyakinan dasar dan Nilai-nilai Dasar serta Paradigma tidak dapat dirasakan oleh panca indra.
Setiap kebijakan yang telah diaplikasikan dalam prosedur atau artifak baru akan menimbulkan asumsi baru yang akan menjadi paradigma baru, keyakinan dasar dan nilai-nilai dasar baru, yang mungkin akan mewujudkan artefak yang baru pula.
Budaya merupakan suatu keadaan yang utuh antara artefak, keyakinan, nilai-nilai dan paradigma. Mulai dari mana dalam mengukur dan mengaplikasikan budaya organisasi, tergantung dari masalah tang sedang dihadapi.
Saya akan mencoba membahas tentang budaya pengunjung pasien pada malam hari di RSU Banyumas.
Banyaknya pasien di malam hari adalah merupakan perilaku dan artifak dari budaya.
Tataruang RSU Banyumas memungkinkan pengunjung pasien untuk senang berada di RSU Banyumas, pintu yang terbuka 24 jam mendukung pengunjung pasien untuk leluasa berada di RSU Banyumas pada malam hari.
Pelanggan RSU Banyumas, sebagian besar adalah petani dan dari wilayah pedesaan, dimana sudah terbentuk suatu pola pikir dan perilaku yang nyata yaitu: senang berkumpul, mengobrol (silahturahmi dan gotong royong) di desa mereka masing masing, karena mereka siang hari sudah lelah bekerja seharian baik di sawah, ladang maupun pasar dengan stresnya masing-masing. Sedangkan mengunjungi orang sakit sudah merupakan tradisi bahkan beberapa pemuka agama/adat yang menganggap mengunjungi orag sakit akan mendapat pahala yang besar, orang yang sakit/menderita bisanya doanya manjur, hal inilah yang muncul dalam paradigma mereka bahwa berkumpul pada malam hari di rumah sakit akan mendapat rahmad dan pahala serta menjadi sarana hiburan.
Menggunakan Paradigma terbalik.
Dalam mengatasi pengunjug di malam hari maka RSU Banyumas dapat menggunakan pendekatan mulai dari merubah paradigma dari masyarakat pelanggan bahwa penunggu atau berada di rumah sakit terlalu banyak dan terlalu lama dapat membahayakan pasien dan membahayakan dirinya sendiri. Tidak semua pasien senang dan merasa nyaman bila terlalu banyak yang mengunjungi, Pasien membutuhkan istirahat, pasien perlu pemulihan agar cepat sembuh, mendoakan pasien agar cepat sembuh dapat dilakukan dimana saja. Biaya orang sakit cukup besar, lebih bermanfaat biaya yang digunakan untuk menunggu pasien untuk membantu pasien.
RSU Banyumas memiliki budaya yang telah dirumuskan dan dtertempel di dinding, untuk siapa materi-materi yang tertempel tersebut? Untuk karyawan atau untuk pengunjung?
Siapa yang diharapkan untuk mewujudkan dari materi materi tersebut?
Materi-materi yang tertempel di dinding itu adalah informasi disampaikan kepada seluruh pelanggan internal maupun eksternal yang merupakan artifak dari budaya RSU Banyumas.
Menggunakan struktur budaya RSU Banyumas dalam mengelola budaya pengunjung pasien.
Paradigma:
Pasien adalah orang yang paling penting dalam urusan kita.
Pengunjung dan kelurga pasien juga mengganggap pasien adalah orang yang paling penting. Kedua paradigma (kelurga dan RSU Banyumas) ini dapat menjadi paradigma yang sinergi untuk membantu pasien menjadi lekas sembuh.
Bangun asumsi bahwa pasien yang dirawat di RSU Banyumas, merasa aman, nyaman, terlindung, terjamin, senang dan berbahagia tampa perlu banyak penunggu. Bila perlu tampa penunggu kebutuhan pasien dapat dipenuhi oleh RSU Banyumas.
Keyakinan dasar:
Bekerja adalah ibadah
Mengunjungi orang sakit adalah berpahala (ibadah)
Ada kesamaan antara keyakinan yang dimiliki oleh pengunjung pasien dan RS Banyumas. Dan didukung oleh Nilai-nilai 5 KEKAL (Kejujuran, Keterbukaan, Kerendahan Hati, Kesediaan melayani, Kerja Keras, Kasih sayang dan Loyalitas) dimiliki oleh rumah sakit. Juga dimiliki oleh Pengunjung Pasien.
Diperlukan asumsi yang sama antara karyawan, manajemen dan pengunjung pasien tentang peran penunggu pasien di malam hari.
Asumsi positif kita bangun bahwa pengunjung dan penunggu pasien yang tertib akan membantu mempercepat penyembuhan. Pengunjung dan penunggu pasien diberi informasi yang cukup akan peran mereka dalam membantu penyembuhan pasien, disampaikan dalam betuk tertulis dan secara lisan.
Indentifikasi petugas yang ada yang dapat dilibatkan, keterbatasan karyawan yang bekerja pada malam hari membuat diperlukan keterlibatan pengunjung/penunggu pasien.
Keterlibatan pengunjung dan penunggu pasien dalam penyembuhan pasien perlu identifikasi, dan dibangun suatu asumsi positif tentang keterlibatan dari penunggu pasien.
Penunggu pasien juga memerlukan rasa aman dan terlindung dengan metode pasien safety dan PSBH di cari solusi pemecahan masalah.
Permasalahan yang utama adalah petugas yang ada sudah sangat disibukkan oleh pekerjaan rutinnya masing masing yang semakin berat sehingga tidak sempat menyelesaikan masalah yang timbul.
Solusi yang utama adalah untuk meringankan tugas karyawan agar karyawan mempunyai kesempatan menyelesaikan masalahnya:
1. Teknologi informasi dibuat aplikasi agar tak ada duplikasi kerja.
2. Penggunaan alat komunikasi
3. Penggunaan kamera CCTV, baik untuk satpam maupun untuk perawat ruang agar dapat memantau kondisi ruang dan pasien atau pengunjung.
4. Bangun sikap kebersamaan sesama karyawan dengan membangun assumsi/paradigma,
5. Karyawan yang bekerja mendapat perlindungan, sehingga ada rasa aman ketika bekerja.
Solusi tambahan yang dapat dilaksanakan segera lain adalah:
1. Komunikasi positif sesama karyawan
2. Komunikasi positif karyawan dengan pelanggan
3. Tata ruang dengan membuat jalan masuk untuk pengunjung pada malam hari terbatas satu pintu dan mudah terkontrol.
4. Kebijakan / Prosedur pengunjung disosialisasikan secara terus menerus dengan melibatkan pengunjung.
Kesimpulan:
Bangun asumsi positif tentang pengunjung yang tertib akan membantu penyembuhan pasien.
”Keselamatan, kesembuhan dan kepuasan pelanggan adalah kebahagian kami” bukan hanya milik RSU Banyumas tetapi milik kita semua termasuk pengunjung dan pasien.
Selamat, Sembuh dan Puas adalah impian kita bersama, karyaman yang selamat, karyawan yang sembuh dan karyawan yang puas akan meningkat kinerjanya dan memberikan kepuasan, kesembuhan, dan kepuasan pada pasien. Pasien yang selamat, pasien yang sembuh dan puas dan membuat pengunjung/penunggu juga bahagia. Sehingga semua pelanggan RSU Banyumas menjadi Bahagia.
Banyumas. 7 Juni 2007.
Oleh : dr. Widayanto, Mkes
PENDAHULUAN
Suatu organisasi selalu mempunyai budaya, budaya tersebut terjadi karena adanya interaksi manusia, yang didasari oleh suatu paradigma ditopang oleh pilarpilar yang berupa keyakinan dasar dan nilainilai dasar.
Budaya organisasi terlihat dari artefak yang terdapat pada organisasi itu, artefakartefak dapat berupa bangunan gedung, pakaian seragam, perilaku dalam melayani, tata-ruang dan dan sebagainya yang tampak dan dapat dirasakan oleh panca indra.
RSU Banyumas sudah memiliki budaya kerja organisasi yang telah diaplikasikan sejak tahun 1996, ditanamkan secara bertahap dan dalam proses yang berlangsung terus menerus. Didalam aplikasi suatu budaya haruslah dipupuk dan dimengerti oleh setiap pihak yang terlibat dalam karya pelayanan, budaya organisasi selalu tumbuh dan berkembang bila tidak dipupuk akan layu dan mati.
Artefak dalam budaya organisasi pengaruhi oleh nilai-nilai dan keyakinan yang dimiliki. Di dalam organisasi rumah sakit budaya organisasi merupakan budaya multikultur, karena anggota rumahsakit terdiri dari beberapa profesi seperti dokter, perawat, tekniksian kesehatan, dan lain-lain. Setiap profesi mempunyai budaya profesi sendiri yang disebut dengan kode etik. Dokter mempunyai kode etik kedokteran; perawat memiliki kode etik keperawatan dan bidan memiliki kode etik kebidanan. Demikian pula setiap profesi yang ada di rumah sakit memiliki kode etik sendiri.
Budaya organisasi juga dipengaruhi oleh keyakinan, keyakinan yang ada termasuk dalam hal ini adalah agama yang dianut oleh anggota organisasi tersebut, seperti contoh adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha, sebagai agama yang diakui oleh negara juga berpengaruh dalam perilaku perorangan. Perilaku perorangan dari tiap individu di organisasi rumah sakit akan menjadi perilaku kelompok.
Perilaku perorangan juga dipengaruhi oleh tradisi budaya yang dimiliki oleh asal orang tersebut.
Mayoritas budaya anggota-anggota secara individu di organisasi akan mempengaruhi budaya organisasi. Sebagian besar karyawan RSU Banyumas beragama Islam dan suku bangsa Jawa (Banyumas) hal ini tentu mempengaruhi budaya organisasi RSU Banyumas yang multikultur campuran dari budaya profesi, keagamaan dan tradisi. Sehingga percampuran dari budaya anggota organisasi budaya RSU Banyumas menjadi bercirikan Profesi kesehatan, Islam dan Banyumasan.
Dalam perumusannya daijabarkan dalam budaya kerja yang di sinkat menjadi 5M(Mutu, Mudah, Murah, Mantap dan Marem), 5R (Rapi, Rajin, Resik, Ramah dan Rukun) , dan CUBIT (Cukup, Urgen, Baik, Irit dan Terawat).
Rumusan Budaya Kerja RSU Banyumas tertempel di dinding tiap-tiap ruang.
Mengaplikasikan Budaya kerja:
1. Budaya kerja diwujudkan dalam Manajemen dan Kepemimpinan
2. Budaya kerja diwujudkan dalam Pola Pikir
3. Budaya kerja diaplikasikan dalam kegiatan pelayanan
Manajemen dan kepemimpinan merupakan suatu kegiatan yang terstruktur dan jelas dalam suatu sistem, dimulai biasanya dari suatu kebijakan yang harus diambil.
Ketika membuat suatu kebijakan biasanya selalu ada pertimbangan, dasar yang diperhatikan. Pertimbangan yang muncul adalah dilandasi oleh keyakinan dan nilai yang dimiliki oleh orang yang mengambil kebijakan tersebut.
RSU Banyumas telah memiliki struktur yang jelas dalam Manajemen dan kepemimpinan yang gambar dalam budaya kerja sehari hari. Yang digambarkan dalam gambar piramid gunung es, yang muncul dipermukanan adalah perilaku pelayanan sebagai 5M, 5R, CUBIT. Sedangkan Keyakinan Dasar dan Nilai-nilai Dasar adalah tiang penyangga yang merupakan pola pikir dasar dalam membuat prosedur dan aturan yang dapat diberlakukan dalam aplikasi sehari hari.
Sedangkan paradigma yang telah tersusun diwujudkan dalam kebijakan yang dibuat berdasar asumsi.
Hal ini dapat dilihat dalam gambar disamping ini. Budaya yang dimiliki oleh RSU Banyumas merupakan suatu kesatuan dalam berilaku anggota organisasi RSU Banyumas yang dapat dilihat adalah artifak yang muncul atau ada disekitar RSU Banyumas.
Artifak yang sekarang muncul seperti disain bangunan, pakaian seragam, pengaturan pasien, tata ruang adalah budaya yang dirasakan oleh pelanggan, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal.
Semua yang ada dan dapat dirasakan oleh panca indra adalah artifak, artifak merupakan kegiatan yang tersusun dari pola pikir dari keyakinan dasar dan nilai-nilai dasar yang dimiliki.
5M, 5R dan CUBIT adalah artefak karena hal ini dapat dirasakan oleh panca indra kita, sedangkan Keyakinan dasar dan Nilai-nilai Dasar serta Paradigma tidak dapat dirasakan oleh panca indra.
Setiap kebijakan yang telah diaplikasikan dalam prosedur atau artifak baru akan menimbulkan asumsi baru yang akan menjadi paradigma baru, keyakinan dasar dan nilai-nilai dasar baru, yang mungkin akan mewujudkan artefak yang baru pula.
Budaya merupakan suatu keadaan yang utuh antara artefak, keyakinan, nilai-nilai dan paradigma. Mulai dari mana dalam mengukur dan mengaplikasikan budaya organisasi, tergantung dari masalah tang sedang dihadapi.
Saya akan mencoba membahas tentang budaya pengunjung pasien pada malam hari di RSU Banyumas.
Banyaknya pasien di malam hari adalah merupakan perilaku dan artifak dari budaya.
Tataruang RSU Banyumas memungkinkan pengunjung pasien untuk senang berada di RSU Banyumas, pintu yang terbuka 24 jam mendukung pengunjung pasien untuk leluasa berada di RSU Banyumas pada malam hari.
Pelanggan RSU Banyumas, sebagian besar adalah petani dan dari wilayah pedesaan, dimana sudah terbentuk suatu pola pikir dan perilaku yang nyata yaitu: senang berkumpul, mengobrol (silahturahmi dan gotong royong) di desa mereka masing masing, karena mereka siang hari sudah lelah bekerja seharian baik di sawah, ladang maupun pasar dengan stresnya masing-masing. Sedangkan mengunjungi orang sakit sudah merupakan tradisi bahkan beberapa pemuka agama/adat yang menganggap mengunjungi orag sakit akan mendapat pahala yang besar, orang yang sakit/menderita bisanya doanya manjur, hal inilah yang muncul dalam paradigma mereka bahwa berkumpul pada malam hari di rumah sakit akan mendapat rahmad dan pahala serta menjadi sarana hiburan.
Menggunakan Paradigma terbalik.
Dalam mengatasi pengunjug di malam hari maka RSU Banyumas dapat menggunakan pendekatan mulai dari merubah paradigma dari masyarakat pelanggan bahwa penunggu atau berada di rumah sakit terlalu banyak dan terlalu lama dapat membahayakan pasien dan membahayakan dirinya sendiri. Tidak semua pasien senang dan merasa nyaman bila terlalu banyak yang mengunjungi, Pasien membutuhkan istirahat, pasien perlu pemulihan agar cepat sembuh, mendoakan pasien agar cepat sembuh dapat dilakukan dimana saja. Biaya orang sakit cukup besar, lebih bermanfaat biaya yang digunakan untuk menunggu pasien untuk membantu pasien.
RSU Banyumas memiliki budaya yang telah dirumuskan dan dtertempel di dinding, untuk siapa materi-materi yang tertempel tersebut? Untuk karyawan atau untuk pengunjung?
Siapa yang diharapkan untuk mewujudkan dari materi materi tersebut?
Materi-materi yang tertempel di dinding itu adalah informasi disampaikan kepada seluruh pelanggan internal maupun eksternal yang merupakan artifak dari budaya RSU Banyumas.
Menggunakan struktur budaya RSU Banyumas dalam mengelola budaya pengunjung pasien.
Paradigma:
Pasien adalah orang yang paling penting dalam urusan kita.
Pengunjung dan kelurga pasien juga mengganggap pasien adalah orang yang paling penting. Kedua paradigma (kelurga dan RSU Banyumas) ini dapat menjadi paradigma yang sinergi untuk membantu pasien menjadi lekas sembuh.
Bangun asumsi bahwa pasien yang dirawat di RSU Banyumas, merasa aman, nyaman, terlindung, terjamin, senang dan berbahagia tampa perlu banyak penunggu. Bila perlu tampa penunggu kebutuhan pasien dapat dipenuhi oleh RSU Banyumas.
Keyakinan dasar:
Bekerja adalah ibadah
Mengunjungi orang sakit adalah berpahala (ibadah)
Ada kesamaan antara keyakinan yang dimiliki oleh pengunjung pasien dan RS Banyumas. Dan didukung oleh Nilai-nilai 5 KEKAL (Kejujuran, Keterbukaan, Kerendahan Hati, Kesediaan melayani, Kerja Keras, Kasih sayang dan Loyalitas) dimiliki oleh rumah sakit. Juga dimiliki oleh Pengunjung Pasien.
Diperlukan asumsi yang sama antara karyawan, manajemen dan pengunjung pasien tentang peran penunggu pasien di malam hari.
Asumsi positif kita bangun bahwa pengunjung dan penunggu pasien yang tertib akan membantu mempercepat penyembuhan. Pengunjung dan penunggu pasien diberi informasi yang cukup akan peran mereka dalam membantu penyembuhan pasien, disampaikan dalam betuk tertulis dan secara lisan.
Indentifikasi petugas yang ada yang dapat dilibatkan, keterbatasan karyawan yang bekerja pada malam hari membuat diperlukan keterlibatan pengunjung/penunggu pasien.
Keterlibatan pengunjung dan penunggu pasien dalam penyembuhan pasien perlu identifikasi, dan dibangun suatu asumsi positif tentang keterlibatan dari penunggu pasien.
Penunggu pasien juga memerlukan rasa aman dan terlindung dengan metode pasien safety dan PSBH di cari solusi pemecahan masalah.
Permasalahan yang utama adalah petugas yang ada sudah sangat disibukkan oleh pekerjaan rutinnya masing masing yang semakin berat sehingga tidak sempat menyelesaikan masalah yang timbul.
Solusi yang utama adalah untuk meringankan tugas karyawan agar karyawan mempunyai kesempatan menyelesaikan masalahnya:
1. Teknologi informasi dibuat aplikasi agar tak ada duplikasi kerja.
2. Penggunaan alat komunikasi
3. Penggunaan kamera CCTV, baik untuk satpam maupun untuk perawat ruang agar dapat memantau kondisi ruang dan pasien atau pengunjung.
4. Bangun sikap kebersamaan sesama karyawan dengan membangun assumsi/paradigma,
5. Karyawan yang bekerja mendapat perlindungan, sehingga ada rasa aman ketika bekerja.
Solusi tambahan yang dapat dilaksanakan segera lain adalah:
1. Komunikasi positif sesama karyawan
2. Komunikasi positif karyawan dengan pelanggan
3. Tata ruang dengan membuat jalan masuk untuk pengunjung pada malam hari terbatas satu pintu dan mudah terkontrol.
4. Kebijakan / Prosedur pengunjung disosialisasikan secara terus menerus dengan melibatkan pengunjung.
Kesimpulan:
Bangun asumsi positif tentang pengunjung yang tertib akan membantu penyembuhan pasien.
”Keselamatan, kesembuhan dan kepuasan pelanggan adalah kebahagian kami” bukan hanya milik RSU Banyumas tetapi milik kita semua termasuk pengunjung dan pasien.
Selamat, Sembuh dan Puas adalah impian kita bersama, karyaman yang selamat, karyawan yang sembuh dan karyawan yang puas akan meningkat kinerjanya dan memberikan kepuasan, kesembuhan, dan kepuasan pada pasien. Pasien yang selamat, pasien yang sembuh dan puas dan membuat pengunjung/penunggu juga bahagia. Sehingga semua pelanggan RSU Banyumas menjadi Bahagia.
Banyumas. 7 Juni 2007.
Sukses
SUKSES
oleh: Widayanto
Orang disebut sukses adalah orang yang dapat mewujudkan mimpi-mimpinya. Setiap orang punya mimpi, tetapi mimpi hanyalah jadi kembang tidur saja bila kita tidak pernah mau mewujudkannya. Mimpi dapat diartikan macam-macam, sering ditafsirkan sesuai dengan keinginan seseorang. Mimpi dapat saja datang tiba-tiba dan bahkan sering mengganggu tidur, biasanya orang yang sedang gelisah, stress sering bermimpi yang jelek dan mengganggu tidur, sehingga menimbulkan kekhawatiran bila mimpi tersebut betul-betul terjadi, bila hal tersebut difikirkan secara terus-menerus maka hal tersebut menjadi kenyataan.
Mengapa sering mimpi yang jelek justru menjadi kenyataan? Karena difikirkan secara terus menerus dan seluruh tubuh mendukung bahwa hal tersebut akan terjadi.
Oleh sebab itu agar kita dapat bermimpi yang baik maka harus berlaku tenang dan berfikir positif. Pikiran yang baik yang terbawa dalam tidur dan bermimpi akan mudah diwujudkan. Pikirkanlah secara terus menerus dan berperilakulah seperti berada dalam mimpi, kita tidak mengenal takut.
Selain mimpi yang baik yaitu mimpi yang membuat kita hidup bersemangat, mimpi yang membuat kita bertambah yakin bahwa kita dapat mewujudkan impian itu. Visi kita kenal adalah mimpi yang kita susun dengan kata-kata yang dapat kita wujudkan. Visi tidak dapat kita capai tapi kita wujudkan, mimpi atau visi atau cita-cita hanyalah istilah apa yang kita inginkan yang harus kita wujudkan melalui usaha.
Istilah tersebut sering diperdebatkan apakah berbeda atau sama. Perbedaannya kepada siapa kita berbicara. Persamaannya adalah bagaimana hal tersebut dapat terwujud.
Pertanyaan yang sering diajukan adalah Bagaimana mewujudkan mimpi,Visi atau cita-cita?
Pertama: difinisikan dengan jelas mimpi itu:
Kedua :identifikasi bentuk wujud dari mimpi tersebut
Ketiga : cari cara pendekatan yang dapat mendekatkan dari wujud tersebut.
Keempat: komitmen untuk mencapainya
Kelima : laksanakan secara persisten dan konsisten.
Keenam: evaluasi setiap langkah apa cenderung mendekat atau menjauh dari mimpi tersebut dan lakukan koreksi
Ketujuh : laksanakan selalu dengan ingat kepada ALLAH.
Manusia berusaha ALLAH yang menentukan, semua yang ada di dunia ini taat dan tunduk pada ketentuan ALLAH, manusia hanya menyesuaikan niat, mimpi, visi dan cita-cita dengan sunnatullah.
oleh: Widayanto
Orang disebut sukses adalah orang yang dapat mewujudkan mimpi-mimpinya. Setiap orang punya mimpi, tetapi mimpi hanyalah jadi kembang tidur saja bila kita tidak pernah mau mewujudkannya. Mimpi dapat diartikan macam-macam, sering ditafsirkan sesuai dengan keinginan seseorang. Mimpi dapat saja datang tiba-tiba dan bahkan sering mengganggu tidur, biasanya orang yang sedang gelisah, stress sering bermimpi yang jelek dan mengganggu tidur, sehingga menimbulkan kekhawatiran bila mimpi tersebut betul-betul terjadi, bila hal tersebut difikirkan secara terus-menerus maka hal tersebut menjadi kenyataan.
Mengapa sering mimpi yang jelek justru menjadi kenyataan? Karena difikirkan secara terus menerus dan seluruh tubuh mendukung bahwa hal tersebut akan terjadi.
Oleh sebab itu agar kita dapat bermimpi yang baik maka harus berlaku tenang dan berfikir positif. Pikiran yang baik yang terbawa dalam tidur dan bermimpi akan mudah diwujudkan. Pikirkanlah secara terus menerus dan berperilakulah seperti berada dalam mimpi, kita tidak mengenal takut.
Selain mimpi yang baik yaitu mimpi yang membuat kita hidup bersemangat, mimpi yang membuat kita bertambah yakin bahwa kita dapat mewujudkan impian itu. Visi kita kenal adalah mimpi yang kita susun dengan kata-kata yang dapat kita wujudkan. Visi tidak dapat kita capai tapi kita wujudkan, mimpi atau visi atau cita-cita hanyalah istilah apa yang kita inginkan yang harus kita wujudkan melalui usaha.
Istilah tersebut sering diperdebatkan apakah berbeda atau sama. Perbedaannya kepada siapa kita berbicara. Persamaannya adalah bagaimana hal tersebut dapat terwujud.
Pertanyaan yang sering diajukan adalah Bagaimana mewujudkan mimpi,Visi atau cita-cita?
Pertama: difinisikan dengan jelas mimpi itu:
Kedua :identifikasi bentuk wujud dari mimpi tersebut
Ketiga : cari cara pendekatan yang dapat mendekatkan dari wujud tersebut.
Keempat: komitmen untuk mencapainya
Kelima : laksanakan secara persisten dan konsisten.
Keenam: evaluasi setiap langkah apa cenderung mendekat atau menjauh dari mimpi tersebut dan lakukan koreksi
Ketujuh : laksanakan selalu dengan ingat kepada ALLAH.
Manusia berusaha ALLAH yang menentukan, semua yang ada di dunia ini taat dan tunduk pada ketentuan ALLAH, manusia hanya menyesuaikan niat, mimpi, visi dan cita-cita dengan sunnatullah.
Saturday, October 13, 2007
KOMUNIKASI
KOMUNIKASI EFEKTIF
Oleh : Widayanto
(Salah satu materi yang disampaikan dalam Pelatihan Komunikasi efektif bagi petugas kesehatan di RSU BANYUMAS, Selasa - Rabu, 24 -25 JULI 2007)
Komunikasi
• Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal atau bahasa isyarat
Komponen komunikasi
• Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengurumkan pesan kepada pihak lain.
• Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain
• Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
• Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.
Proses komunikasi
• Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak.
• Pesan (Message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail, atau media lainnya.
• Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti kedua pihak.
• Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim.
Membangun Komunikasi Efektif
• Kontak Mata
• Ekspresi Wajah
• Postur Tubuh
• Selera Berbusana
Hukum Komunikasi Efektif
• REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble),
Respect
• Respect merupakan sikap hormat dan sikap menghargai terhadap lawan bicara kita.
• ”There will be no RESPECT without TRUST, and there is no trust without INTEGRITY.”
Empati,
• Empati, yaitu kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain.
• Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya.
Audible.
• Audible adalah: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik.
• Kunci utama untuk dapat menerapkan hukum ini dalam mengirimkan pesan adalah:
– Buat pesan Anda mudah untuk dimengerti
– Fokus pada informasi yang penting
– Gunakan ilustrasi untuk membantu memperjelas isi dari pesan tersebut
– Taruhlah perhatian pada fasilitas yang ada dan lingkungan di sekitar Anda
– Antisipasi kemungkinan masalah yang akan muncul
– Selalu menyiapkan rencana atau pesan cadangan (backup)
Clarity
• Clarity adalah kejelasan dari pesan yang kita sampaikan, tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan.
• Clarity juga sangat tergantung pada kualitas suara kita dan bahasa yang kita gunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti, akan membuat isi dari pesan kita tidak dapat mencapai tujuannya.
Humble
• Humble adalah sikap rendah hati.
• Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Kerendahan hati juga bisa berarti tidak sombong dan menganggap diri penting ketika kita berbicara. Justru dengan kerendahan hatilah kita dapat menangkap perhatian dan respons yang positif dari si penerima pesan.
Oleh : Widayanto
(Salah satu materi yang disampaikan dalam Pelatihan Komunikasi efektif bagi petugas kesehatan di RSU BANYUMAS, Selasa - Rabu, 24 -25 JULI 2007)
Komunikasi
• Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal atau bahasa isyarat
Komponen komunikasi
• Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengurumkan pesan kepada pihak lain.
• Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain
• Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
• Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.
Proses komunikasi
• Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak.
• Pesan (Message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail, atau media lainnya.
• Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti kedua pihak.
• Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim.
Membangun Komunikasi Efektif
• Kontak Mata
• Ekspresi Wajah
• Postur Tubuh
• Selera Berbusana
Hukum Komunikasi Efektif
• REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble),
Respect
• Respect merupakan sikap hormat dan sikap menghargai terhadap lawan bicara kita.
• ”There will be no RESPECT without TRUST, and there is no trust without INTEGRITY.”
Empati,
• Empati, yaitu kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain.
• Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya.
Audible.
• Audible adalah: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik.
• Kunci utama untuk dapat menerapkan hukum ini dalam mengirimkan pesan adalah:
– Buat pesan Anda mudah untuk dimengerti
– Fokus pada informasi yang penting
– Gunakan ilustrasi untuk membantu memperjelas isi dari pesan tersebut
– Taruhlah perhatian pada fasilitas yang ada dan lingkungan di sekitar Anda
– Antisipasi kemungkinan masalah yang akan muncul
– Selalu menyiapkan rencana atau pesan cadangan (backup)
Clarity
• Clarity adalah kejelasan dari pesan yang kita sampaikan, tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan.
• Clarity juga sangat tergantung pada kualitas suara kita dan bahasa yang kita gunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti, akan membuat isi dari pesan kita tidak dapat mencapai tujuannya.
Humble
• Humble adalah sikap rendah hati.
• Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Kerendahan hati juga bisa berarti tidak sombong dan menganggap diri penting ketika kita berbicara. Justru dengan kerendahan hatilah kita dapat menangkap perhatian dan respons yang positif dari si penerima pesan.
Gagal Ginjal Kronis
Gagal Ginjal Kronis
Oleh : dr. Widayanto, Mkes. (no. Reg:34.1.1.100.1.06.027426)
Telp, (0281) 7621090, HP, 085227887444,
E-mail: widayantodr@yahoo.co.id
DEFINISI
Gagal Ginjal Kronis adalah kemunduran perlahan dari fungsi ginjal yang menyebabkan penimbunan limbah metabolik di dalam darah (azotemia).
PENYEBAB
Penyebab dari gagal ginjal kronis adalah: - Tekanan darah tinggi (hipertensi) - Penyumbatan saluran kemih - Glomerulonefritis - Kelainan ginjal, misalnya penyakit ginjal polikista - Diabetes melitus (kencing manis) - Kelainan autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik.
GEJALA
Pada gagal ginjal kronis, gejala-gejalanya berkembang secara perlahan. Pada awalnya tidak ada gejala sama sekali, kelainan fungsi ginjal hanya dapat diketahui dari pemeriksaan laboratorium. Pada gagal ginjal kronis ringan sampai sedang, gejalanya ringan meskipun terdapat peningkatan urea dalam darah. Pada stadium ini terdapat: - nokturia, penderita sering berkemih di malam hari karena ginjal tidak dapat menyerap air dari air kemih, sebagai akibatnya volume air kemih bertambah - tekanan darah tinggi, karena ginjal tidak mampu membuang kelebihan garam dan air. Tekanan darah tinggi bisa menyebabkan stroke atau gagal jantung. Sejalan dengan perkembangan penyakit, maka lama-lama limbah metabolik yang tertimbun di darah semakin banyak. Pada stadium ini, penderita menunjukkan gejala-gejala: - letih, mudah lelah, kurang siaga - kedutan otot, kelemahan otot, kram - perasaan tertusuk jarum pada anggota gerak - hilangnya rasa di daerah tertentu - kejang terjadi jika tekanan darah tinggi atau kelainan kimia darah menyebabkan kelainan fungsi otak - nafsu makan menurun, mual, muntah - peradangan lapisan mulut (stomatitis) - rasa tidak enak di mulut - malnutrisi - penurunan berat badan. Pada stadium yang sudah sangat lanjut, penderita bisa menderita ulkus dan perdarahan saluran pencernaan. Kulitnya berwarna kuning kecoklatan dan kadang konsentrasi urea sangat tinggi sehingga terkristalisasi dari keringat dan membentuk serbuk putih di kulit (bekuan uremik). Beberapa penderita merasakan gatal di seluruh tubuh.
DIAGNOSA
Pada pemeriksaan darah akan ditemukan: - peningkatan kadar urea dan kreatinin - anemia - asidosis (peningkatan keasaman darah) - hipokalsemia (penurunan kadar kalsium) - hiperfosfatemia (peningkatan kadar fosfat) - peningkatan kadar hormon paratiroid - penurunan kadar vitamin D - kadar kalium normal atau sedikit meningkat. Analisa air kemih menunjukkan berbagai kelainan, berupa ditemukannya sel-sel yang abnormal dan konsentrasi garam yang tinggi.
PENGOBATAN
Tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan gejala, meminimalkan komplikasi dan memperlambat perkembangan penyakit. Penyebab dan berbagai keadaan yang memperburuk gagal ginjal harus segera dikoreksi. Diet rendah protein (0,4-0,8 gram/kg BB) bisa memperlambat perkembangan gagal ginjal kronis. Tambahan vitamin B dan C diberikan jika penderita menjalani diet ketat atau menjalani dialisa. Pada penderita gagal ginjal kronis biasanya kadar trigliserida dalam darah tinggi. Hal ini akan meningkatkan resiko terjadinya komplikasi, seperti stroke dan serangan jantung. Untuk menurunkan kadar trigliserida, diberikan gemfibrozil. Kadang asupan cairan dibatasi untuk mencegah terlalu rendahnya kadar garam (natrium) dalam darah. Asupan garam biasanya tidak dibatasi kecuali jika terjadi edema (penimbunan cairan di dalam jaringan) atau hipertensi. Makanan kaya kalium harus dihindari. Hiperkalemia (tingginya kadar kalium dalam darah) sangat berbahaya karena meningkatkan resiko terjadinya gangguan irama jantung dan cardiac arrest. Jika kadar kalium terlalu tinggi, maka diberikan natrium polisteren sulfonat untuk mengikat kalium, sehingga kalium dapat dibuang bersama tinja. Kadar fosfat dalam darah dikendalikan dengan membatasi asupan makanan kaya fosfat (misalnya produk olahan susu, hati, polong, kacang-kacangan dan minuman ringan). Bisa diberikan obat-obatan yang bisa mengikat fosfat, seperti kalsium karbonat, kalsium asetat dan alumunium hidroksida. Anemia terjadi karena ginjal gagal menghasilkan eritropoeitin dalam jumlah yang mencukupi. Eritropoietin adalah hormon yang merangsang pembentukan sel darah merah. Respon terhadap penyuntikan poietin sangat lambat. Transfusi darah hanya diberikan jika anemianya berat atau menimbulkan gejala. Kecenderungan mudahnya terjadi perdarahan untuk sementara waktu bisa diatasi dengan transfusi sel darah merah atau platelet atau dengan obat-obatan (misalnya desmopresin atau estrogen). Tindakan tersebut mungkin perlu dilakukan setelah penderita mengalami cedera atau sebelum menjalani prosedur pembedahan maupun pencabutan gigi. Gejala gagal jantung biasanya terjadi akibat penimbunan cairan dan natrium. Pada keadaan ini dilakukan pembatasan asupan natrium atau diberikan diuretik (misalnya furosemid, bumetanid dan torsemid). Hipertensi sedang maupun hipertensi berat diatasi dengan obat hipertensi standar. Jika pengobatan awal untuk gagal ginjal tersebut tidak lagi efektif, maka dilakukan dialisa jangka panjang atau pencangkokan ginjal.
Oleh : dr. Widayanto, Mkes. (no. Reg:34.1.1.100.1.06.027426)
Telp, (0281) 7621090, HP, 085227887444,
E-mail: widayantodr@yahoo.co.id
DEFINISI
Gagal Ginjal Kronis adalah kemunduran perlahan dari fungsi ginjal yang menyebabkan penimbunan limbah metabolik di dalam darah (azotemia).
PENYEBAB
Penyebab dari gagal ginjal kronis adalah: - Tekanan darah tinggi (hipertensi) - Penyumbatan saluran kemih - Glomerulonefritis - Kelainan ginjal, misalnya penyakit ginjal polikista - Diabetes melitus (kencing manis) - Kelainan autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik.
GEJALA
Pada gagal ginjal kronis, gejala-gejalanya berkembang secara perlahan. Pada awalnya tidak ada gejala sama sekali, kelainan fungsi ginjal hanya dapat diketahui dari pemeriksaan laboratorium. Pada gagal ginjal kronis ringan sampai sedang, gejalanya ringan meskipun terdapat peningkatan urea dalam darah. Pada stadium ini terdapat: - nokturia, penderita sering berkemih di malam hari karena ginjal tidak dapat menyerap air dari air kemih, sebagai akibatnya volume air kemih bertambah - tekanan darah tinggi, karena ginjal tidak mampu membuang kelebihan garam dan air. Tekanan darah tinggi bisa menyebabkan stroke atau gagal jantung. Sejalan dengan perkembangan penyakit, maka lama-lama limbah metabolik yang tertimbun di darah semakin banyak. Pada stadium ini, penderita menunjukkan gejala-gejala: - letih, mudah lelah, kurang siaga - kedutan otot, kelemahan otot, kram - perasaan tertusuk jarum pada anggota gerak - hilangnya rasa di daerah tertentu - kejang terjadi jika tekanan darah tinggi atau kelainan kimia darah menyebabkan kelainan fungsi otak - nafsu makan menurun, mual, muntah - peradangan lapisan mulut (stomatitis) - rasa tidak enak di mulut - malnutrisi - penurunan berat badan. Pada stadium yang sudah sangat lanjut, penderita bisa menderita ulkus dan perdarahan saluran pencernaan. Kulitnya berwarna kuning kecoklatan dan kadang konsentrasi urea sangat tinggi sehingga terkristalisasi dari keringat dan membentuk serbuk putih di kulit (bekuan uremik). Beberapa penderita merasakan gatal di seluruh tubuh.
DIAGNOSA
Pada pemeriksaan darah akan ditemukan: - peningkatan kadar urea dan kreatinin - anemia - asidosis (peningkatan keasaman darah) - hipokalsemia (penurunan kadar kalsium) - hiperfosfatemia (peningkatan kadar fosfat) - peningkatan kadar hormon paratiroid - penurunan kadar vitamin D - kadar kalium normal atau sedikit meningkat. Analisa air kemih menunjukkan berbagai kelainan, berupa ditemukannya sel-sel yang abnormal dan konsentrasi garam yang tinggi.
PENGOBATAN
Tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan gejala, meminimalkan komplikasi dan memperlambat perkembangan penyakit. Penyebab dan berbagai keadaan yang memperburuk gagal ginjal harus segera dikoreksi. Diet rendah protein (0,4-0,8 gram/kg BB) bisa memperlambat perkembangan gagal ginjal kronis. Tambahan vitamin B dan C diberikan jika penderita menjalani diet ketat atau menjalani dialisa. Pada penderita gagal ginjal kronis biasanya kadar trigliserida dalam darah tinggi. Hal ini akan meningkatkan resiko terjadinya komplikasi, seperti stroke dan serangan jantung. Untuk menurunkan kadar trigliserida, diberikan gemfibrozil. Kadang asupan cairan dibatasi untuk mencegah terlalu rendahnya kadar garam (natrium) dalam darah. Asupan garam biasanya tidak dibatasi kecuali jika terjadi edema (penimbunan cairan di dalam jaringan) atau hipertensi. Makanan kaya kalium harus dihindari. Hiperkalemia (tingginya kadar kalium dalam darah) sangat berbahaya karena meningkatkan resiko terjadinya gangguan irama jantung dan cardiac arrest. Jika kadar kalium terlalu tinggi, maka diberikan natrium polisteren sulfonat untuk mengikat kalium, sehingga kalium dapat dibuang bersama tinja. Kadar fosfat dalam darah dikendalikan dengan membatasi asupan makanan kaya fosfat (misalnya produk olahan susu, hati, polong, kacang-kacangan dan minuman ringan). Bisa diberikan obat-obatan yang bisa mengikat fosfat, seperti kalsium karbonat, kalsium asetat dan alumunium hidroksida. Anemia terjadi karena ginjal gagal menghasilkan eritropoeitin dalam jumlah yang mencukupi. Eritropoietin adalah hormon yang merangsang pembentukan sel darah merah. Respon terhadap penyuntikan poietin sangat lambat. Transfusi darah hanya diberikan jika anemianya berat atau menimbulkan gejala. Kecenderungan mudahnya terjadi perdarahan untuk sementara waktu bisa diatasi dengan transfusi sel darah merah atau platelet atau dengan obat-obatan (misalnya desmopresin atau estrogen). Tindakan tersebut mungkin perlu dilakukan setelah penderita mengalami cedera atau sebelum menjalani prosedur pembedahan maupun pencabutan gigi. Gejala gagal jantung biasanya terjadi akibat penimbunan cairan dan natrium. Pada keadaan ini dilakukan pembatasan asupan natrium atau diberikan diuretik (misalnya furosemid, bumetanid dan torsemid). Hipertensi sedang maupun hipertensi berat diatasi dengan obat hipertensi standar. Jika pengobatan awal untuk gagal ginjal tersebut tidak lagi efektif, maka dilakukan dialisa jangka panjang atau pencangkokan ginjal.
Subscribe to:
Posts (Atom)
