Sunday, October 14, 2007

BUDAYA ORGANISASI DALAM APLIKASI DI RSU BANYUMAS

BUDAYA ORGANISASI DALAM APLIKASI DI RSU BANYUMAS
Oleh : dr. Widayanto, Mkes

PENDAHULUAN
Suatu organisasi selalu mempunyai budaya, budaya tersebut terjadi karena adanya interaksi manusia, yang didasari oleh suatu paradigma ditopang oleh pilarpilar yang berupa keyakinan dasar dan nilainilai dasar.
Budaya organisasi terlihat dari artefak yang terdapat pada organisasi itu, artefakartefak dapat berupa bangunan gedung, pakaian seragam, perilaku dalam melayani, tata-ruang dan dan sebagainya yang tampak dan dapat dirasakan oleh panca indra.
RSU Banyumas sudah memiliki budaya kerja organisasi yang telah diaplikasikan sejak tahun 1996, ditanamkan secara bertahap dan dalam proses yang berlangsung terus menerus. Didalam aplikasi suatu budaya haruslah dipupuk dan dimengerti oleh setiap pihak yang terlibat dalam karya pelayanan, budaya organisasi selalu tumbuh dan berkembang bila tidak dipupuk akan layu dan mati.
Artefak dalam budaya organisasi pengaruhi oleh nilai-nilai dan keyakinan yang dimiliki. Di dalam organisasi rumah sakit budaya organisasi merupakan budaya multikultur, karena anggota rumahsakit terdiri dari beberapa profesi seperti dokter, perawat, tekniksian kesehatan, dan lain-lain. Setiap profesi mempunyai budaya profesi sendiri yang disebut dengan kode etik. Dokter mempunyai kode etik kedokteran; perawat memiliki kode etik keperawatan dan bidan memiliki kode etik kebidanan. Demikian pula setiap profesi yang ada di rumah sakit memiliki kode etik sendiri.
Budaya organisasi juga dipengaruhi oleh keyakinan, keyakinan yang ada termasuk dalam hal ini adalah agama yang dianut oleh anggota organisasi tersebut, seperti contoh adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha, sebagai agama yang diakui oleh negara juga berpengaruh dalam perilaku perorangan. Perilaku perorangan dari tiap individu di organisasi rumah sakit akan menjadi perilaku kelompok.
Perilaku perorangan juga dipengaruhi oleh tradisi budaya yang dimiliki oleh asal orang tersebut.
Mayoritas budaya anggota-anggota secara individu di organisasi akan mempengaruhi budaya organisasi. Sebagian besar karyawan RSU Banyumas beragama Islam dan suku bangsa Jawa (Banyumas) hal ini tentu mempengaruhi budaya organisasi RSU Banyumas yang multikultur campuran dari budaya profesi, keagamaan dan tradisi. Sehingga percampuran dari budaya anggota organisasi budaya RSU Banyumas menjadi bercirikan Profesi kesehatan, Islam dan Banyumasan.
Dalam perumusannya daijabarkan dalam budaya kerja yang di sinkat menjadi 5M(Mutu, Mudah, Murah, Mantap dan Marem), 5R (Rapi, Rajin, Resik, Ramah dan Rukun) , dan CUBIT (Cukup, Urgen, Baik, Irit dan Terawat).
Rumusan Budaya Kerja RSU Banyumas tertempel di dinding tiap-tiap ruang.

Mengaplikasikan Budaya kerja:
1. Budaya kerja diwujudkan dalam Manajemen dan Kepemimpinan
2. Budaya kerja diwujudkan dalam Pola Pikir
3. Budaya kerja diaplikasikan dalam kegiatan pelayanan

Manajemen dan kepemimpinan merupakan suatu kegiatan yang terstruktur dan jelas dalam suatu sistem, dimulai biasanya dari suatu kebijakan yang harus diambil.
Ketika membuat suatu kebijakan biasanya selalu ada pertimbangan, dasar yang diperhatikan. Pertimbangan yang muncul adalah dilandasi oleh keyakinan dan nilai yang dimiliki oleh orang yang mengambil kebijakan tersebut.
RSU Banyumas telah memiliki struktur yang jelas dalam Manajemen dan kepemimpinan yang gambar dalam budaya kerja sehari hari. Yang digambarkan dalam gambar piramid gunung es, yang muncul dipermukanan adalah perilaku pelayanan sebagai 5M, 5R, CUBIT. Sedangkan Keyakinan Dasar dan Nilai-nilai Dasar adalah tiang penyangga yang merupakan pola pikir dasar dalam membuat prosedur dan aturan yang dapat diberlakukan dalam aplikasi sehari hari.
Sedangkan paradigma yang telah tersusun diwujudkan dalam kebijakan yang dibuat berdasar asumsi.
Hal ini dapat dilihat dalam gambar disamping ini. Budaya yang dimiliki oleh RSU Banyumas merupakan suatu kesatuan dalam berilaku anggota organisasi RSU Banyumas yang dapat dilihat adalah artifak yang muncul atau ada disekitar RSU Banyumas.
Artifak yang sekarang muncul seperti disain bangunan, pakaian seragam, pengaturan pasien, tata ruang adalah budaya yang dirasakan oleh pelanggan, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal.
Semua yang ada dan dapat dirasakan oleh panca indra adalah artifak, artifak merupakan kegiatan yang tersusun dari pola pikir dari keyakinan dasar dan nilai-nilai dasar yang dimiliki.
5M, 5R dan CUBIT adalah artefak karena hal ini dapat dirasakan oleh panca indra kita, sedangkan Keyakinan dasar dan Nilai-nilai Dasar serta Paradigma tidak dapat dirasakan oleh panca indra.
Setiap kebijakan yang telah diaplikasikan dalam prosedur atau artifak baru akan menimbulkan asumsi baru yang akan menjadi paradigma baru, keyakinan dasar dan nilai-nilai dasar baru, yang mungkin akan mewujudkan artefak yang baru pula.
Budaya merupakan suatu keadaan yang utuh antara artefak, keyakinan, nilai-nilai dan paradigma. Mulai dari mana dalam mengukur dan mengaplikasikan budaya organisasi, tergantung dari masalah tang sedang dihadapi.
Saya akan mencoba membahas tentang budaya pengunjung pasien pada malam hari di RSU Banyumas.
Banyaknya pasien di malam hari adalah merupakan perilaku dan artifak dari budaya.
Tataruang RSU Banyumas memungkinkan pengunjung pasien untuk senang berada di RSU Banyumas, pintu yang terbuka 24 jam mendukung pengunjung pasien untuk leluasa berada di RSU Banyumas pada malam hari.
Pelanggan RSU Banyumas, sebagian besar adalah petani dan dari wilayah pedesaan, dimana sudah terbentuk suatu pola pikir dan perilaku yang nyata yaitu: senang berkumpul, mengobrol (silahturahmi dan gotong royong) di desa mereka masing masing, karena mereka siang hari sudah lelah bekerja seharian baik di sawah, ladang maupun pasar dengan stresnya masing-masing. Sedangkan mengunjungi orang sakit sudah merupakan tradisi bahkan beberapa pemuka agama/adat yang menganggap mengunjungi orag sakit akan mendapat pahala yang besar, orang yang sakit/menderita bisanya doanya manjur, hal inilah yang muncul dalam paradigma mereka bahwa berkumpul pada malam hari di rumah sakit akan mendapat rahmad dan pahala serta menjadi sarana hiburan.
Menggunakan Paradigma terbalik.
Dalam mengatasi pengunjug di malam hari maka RSU Banyumas dapat menggunakan pendekatan mulai dari merubah paradigma dari masyarakat pelanggan bahwa penunggu atau berada di rumah sakit terlalu banyak dan terlalu lama dapat membahayakan pasien dan membahayakan dirinya sendiri. Tidak semua pasien senang dan merasa nyaman bila terlalu banyak yang mengunjungi, Pasien membutuhkan istirahat, pasien perlu pemulihan agar cepat sembuh, mendoakan pasien agar cepat sembuh dapat dilakukan dimana saja. Biaya orang sakit cukup besar, lebih bermanfaat biaya yang digunakan untuk menunggu pasien untuk membantu pasien.

RSU Banyumas memiliki budaya yang telah dirumuskan dan dtertempel di dinding, untuk siapa materi-materi yang tertempel tersebut? Untuk karyawan atau untuk pengunjung?
Siapa yang diharapkan untuk mewujudkan dari materi materi tersebut?
Materi-materi yang tertempel di dinding itu adalah informasi disampaikan kepada seluruh pelanggan internal maupun eksternal yang merupakan artifak dari budaya RSU Banyumas.
Menggunakan struktur budaya RSU Banyumas dalam mengelola budaya pengunjung pasien.
Paradigma:
Pasien adalah orang yang paling penting dalam urusan kita.
Pengunjung dan kelurga pasien juga mengganggap pasien adalah orang yang paling penting. Kedua paradigma (kelurga dan RSU Banyumas) ini dapat menjadi paradigma yang sinergi untuk membantu pasien menjadi lekas sembuh.
Bangun asumsi bahwa pasien yang dirawat di RSU Banyumas, merasa aman, nyaman, terlindung, terjamin, senang dan berbahagia tampa perlu banyak penunggu. Bila perlu tampa penunggu kebutuhan pasien dapat dipenuhi oleh RSU Banyumas.
Keyakinan dasar:
Bekerja adalah ibadah
Mengunjungi orang sakit adalah berpahala (ibadah)
Ada kesamaan antara keyakinan yang dimiliki oleh pengunjung pasien dan RS Banyumas. Dan didukung oleh Nilai-nilai 5 KEKAL (Kejujuran, Keterbukaan, Kerendahan Hati, Kesediaan melayani, Kerja Keras, Kasih sayang dan Loyalitas) dimiliki oleh rumah sakit. Juga dimiliki oleh Pengunjung Pasien.

Diperlukan asumsi yang sama antara karyawan, manajemen dan pengunjung pasien tentang peran penunggu pasien di malam hari.
Asumsi positif kita bangun bahwa pengunjung dan penunggu pasien yang tertib akan membantu mempercepat penyembuhan. Pengunjung dan penunggu pasien diberi informasi yang cukup akan peran mereka dalam membantu penyembuhan pasien, disampaikan dalam betuk tertulis dan secara lisan.
Indentifikasi petugas yang ada yang dapat dilibatkan, keterbatasan karyawan yang bekerja pada malam hari membuat diperlukan keterlibatan pengunjung/penunggu pasien.
Keterlibatan pengunjung dan penunggu pasien dalam penyembuhan pasien perlu identifikasi, dan dibangun suatu asumsi positif tentang keterlibatan dari penunggu pasien.
Penunggu pasien juga memerlukan rasa aman dan terlindung dengan metode pasien safety dan PSBH di cari solusi pemecahan masalah.
Permasalahan yang utama adalah petugas yang ada sudah sangat disibukkan oleh pekerjaan rutinnya masing masing yang semakin berat sehingga tidak sempat menyelesaikan masalah yang timbul.
Solusi yang utama adalah untuk meringankan tugas karyawan agar karyawan mempunyai kesempatan menyelesaikan masalahnya:
1. Teknologi informasi dibuat aplikasi agar tak ada duplikasi kerja.
2. Penggunaan alat komunikasi
3. Penggunaan kamera CCTV, baik untuk satpam maupun untuk perawat ruang agar dapat memantau kondisi ruang dan pasien atau pengunjung.
4. Bangun sikap kebersamaan sesama karyawan dengan membangun assumsi/paradigma,
5. Karyawan yang bekerja mendapat perlindungan, sehingga ada rasa aman ketika bekerja.

Solusi tambahan yang dapat dilaksanakan segera lain adalah:
1. Komunikasi positif sesama karyawan
2. Komunikasi positif karyawan dengan pelanggan
3. Tata ruang dengan membuat jalan masuk untuk pengunjung pada malam hari terbatas satu pintu dan mudah terkontrol.
4. Kebijakan / Prosedur pengunjung disosialisasikan secara terus menerus dengan melibatkan pengunjung.

Kesimpulan:
Bangun asumsi positif tentang pengunjung yang tertib akan membantu penyembuhan pasien.
”Keselamatan, kesembuhan dan kepuasan pelanggan adalah kebahagian kami” bukan hanya milik RSU Banyumas tetapi milik kita semua termasuk pengunjung dan pasien.
Selamat, Sembuh dan Puas adalah impian kita bersama, karyaman yang selamat, karyawan yang sembuh dan karyawan yang puas akan meningkat kinerjanya dan memberikan kepuasan, kesembuhan, dan kepuasan pada pasien. Pasien yang selamat, pasien yang sembuh dan puas dan membuat pengunjung/penunggu juga bahagia. Sehingga semua pelanggan RSU Banyumas menjadi Bahagia.

Banyumas. 7 Juni 2007.

No comments: